KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sampah dan limbah menjadi persoalan klasik di wilayah perkotaan. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Madiun yang harus dituntaskan. Tak sekadar menjaga kebersihan, penyediaan akses sanitasi layak dan aman juga wajib dipenuhi agar tak memicu beragam penyakit.
‘’Masalah terkait sanitasi layak dan aman saat ini harus segera diselesaikan. Akar masalah yang kemungkinan akan terjadi ke depan juga harus diantisipasi,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi Senin (17/10).
Saat ini Kota Madiun termasuk daerah open defecation free (ODF) atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan. Menurut dia, itu lantaran program jambanisasi sudah dipenuhi dinas perumahan dan kawasan permukiman (disperkim).
Namun, lanjut dia, penyediaan sarana dan prasarana (sarpras) tersebut tidak cukup jika tidak diimbangi perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. ‘’Sarpras jambanisasi sudah jalan. Tapi, ketika perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat tidak diubah, program tersebut tidak akan jalan,’’ ujarnya.
Maidi menyebutkan, setiap tahun dianggarkan pembangunan fasilitas umum berbasis sanitasi baru dan pemeliharaan. Pun, pengolahan limbah secara sehat juga dilakukan berkelanjutan. Yakni, mengubah perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Sebab, kondisi itu linier dengan angka harapan hidup (AHH) serta stunting.
Tahun ini pemkot menganggarkan Rp 150 juta untuk pembangunan baru serta pemeliharaannya. Setidaknya ada 13 titik yang bakal dibangun maupun pemeliharaan.
‘’Persoalan kesehatan bukan hanya tanggung jawab dinkes-PPKB (dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana), melainkan semua organisasi perangkat daerah (OPD). Termasuk DPUPR (dinas pekerjaan umum dan penataan ruang) harus mampu membangun saluran air atau sungai yang bersih serta aman,’’ ungkap Maidi.
Maidi menegaskan, Kota Madiun telah mendeklarasikan lima pilar sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Sehingga, pilar tersebut wajib dipenuhi. Mulai, stop buang air besar sembarangan, cuci tangan dengan air menggunakan sabun, pengolahan air minum aman, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga. ‘’Kota Madiun juga punya IPLT (instalasi pengolahan lumpur tinja),’’ bebernya.
Di sisi lain, Pemkot Madiun terus berupaya mereduksi kawasan kumuh. Yakni, dengan membangun kampung tematik dan ruang terbuka hijau (RTH) di seluruh kelurahan. Sehingga, semua pembangunan atau tata kelola kota saling berkesinambungan. Termasuk mewujudkan kota yang aman, bersih dan sehat. ‘’Target kami menjadi yang terbaik dalam penilaian STBM tingkat nasional,’’ harapnya. (ggi/sat)
Editor : Hengky Ristanto