‘’Pada saat musim panen kebutuhan air tidak terlalu banyak,’’ kata Kabid Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun Wahyu Niken Febrianti, Jumat (28/10).
Sehingga, jika tanaman padi tergenang, lanjut dia, dampaknya akan sangat berpengaruh pada kualitas hasil panen. Kadar air menjadi terlalu tinggi. Akibatnya, harga gabah sangat mungkin anjlok. ‘’Pembeli juga mempertimbangkan rendemen. Itu tidak menguntungkan bagi para petani,’’ ujarnya.
Kelembaban udara, menurut dia, juga memicu hama penyakit pada tanaman. Untuk itu, pada masa terakhir pertumbuhan padi saat ini, petani diminta lebih waspada. ‘’Sebab, tingkat serangan hama dan penyakit bisa sampai pada level gagal panen,’’ tuturnya.
Intensitas hujan tinggi berpotensi menggenangi lahan pertanian. Hujan pada pagi dan malam hari juga rawan. Sebab, sering luput dari pantauan petani. ‘’Idealnya, genangan pada lahan pertanian harus surut dalam dua-tiga hari. Jika lebih dari itu, hama wereng rawan merusak padi,’’ ungkapnya.
Curah hujan tinggi dan penggunaan pupuk kimia berlebih akan menurunkan PH tanah. Sehingga, mikroorganisme dan cacing tidak berkembang optimal. Akibatnya, padi tumbuh kerdil. Menurut dia, meskipun bukan tanaman air tapi padi tetap butuh air. Hanya, tidak terlalu banyak.
Titik rawan lahan pertanian tergenang ada di Kelun, Tawangrejo, dan Rejomulyo. Dia mengklaim sejauh ini lahan pertanian di Kota Madiun tidak terlalu lama tergenang. ‘’Pembuatan drainase di lahan pertanian menjadi kebijakan yang baik dalam mengatasi genangan air,’’ jelasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto