Wali Kota Madiun Maidi mengatakan, di Kota Madiun terdapat sekitar 220 penyandang disabilitas. Itu belum termasuk pelajar sekolah luar biasa yang berjumlah sekitar 50-an anak. Sehingga, penting bagi pemkot untuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Tentu, kesejahteraan para difabel menjadi prioritas.
‘’Insya Allah program-program yang menyangkut penyandang disabilitas kami prioritaskan,’’ kata Maidi.
Pembangunan infrastruktur juga diarahkan supaya ramah untuk semua kalangan. Misalnya pedestrian. Fasilitas publik satu ini harus memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bagi penyandang disabilitas. Sehingga dilengkapi guiding block atau jalur pemandu bagi tunanetra.
Selain itu, ramp alias jalur landai untuk pengguna kursi roda juga akan direalisasikan di pedestrian. Acuannya yakni Pedoman Perencanaan Teknis Pejalan Kaki dari Kementerian PUPR.
‘’Kalau ada sebagian trotoar yang belum memenuhi kebutuhan difabel, terpaksa kami bongkar dan dibangun kembali sesuai ketentuan. Artinya, pembangunan infrastruktur tidak boleh asal-asalan, semua ada aturannya,’’ tuturnya mantan Sekda Kota Madiun itu.
Warga berkebutuhan khusus juga terus diberdayakan. Pemkot selalu memfasilitasi produk para penyandang disabilitas untuk disediakan di berbagai acara pemkot. Termasuk makanan dan minuman. ‘’Kalau bukan produk penyandang disabilitas, maaf saya tolak. Untuk semua acara,’’ tegasnya.
Pak Wali juga menaruh perhatian untuk para lansia nonpotensial. Pemkot secara khusus menyalurkan bantuan kursi roda serta tongkat jalan. Agar kelompok tersebut dapat menjalani masa tuanya dengan nyaman.
‘’Pemerintah harus ada untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat. Karena itu, dimana ada warga kota yang kesulitan, maka harus segera dibantu,’’ pungkasnya. (ggi/naz) Editor : Hengky Ristanto