Selain memberi hiburan warga dan wisatawan, berbagai kegiatan itu ditujukan sebagai wadah masyarakat untuk berekspresi. ‘’Setiap pekan, kami gelar parade senja. Ada marching band dan kreasi PBB (peraturan baris berbaris),’’ kata Wali Kota Madiun Maidi.
Sebelumnya, parade senja hanya digelar di akhir pekan. Kini pemkot menambah jam tayang kepada mereka yang ingin tampil di hadapan ribuan pasang mata. Kegiatan tersebut juga digelar di tanggal 17 setiap bulannya.
‘’Ada sekitar 36 grup marching band di kota kita. Mereka hanya bisa tampil saat peringatan kemerdekaan dan hari jadi Kota Madiun. Sehingga, kami memilih mewadahi mereka supaya bisa menampilkan kemampuan,’’ ujarnya.
Selain itu, pemkot juga menggelar ajang pencarian bakat di seluruh kelurahan yang tersebar di tiga kecamatan. Menurut Maidi, kegiatan hiburan semacam ini cukup dibutuhkan warga pasca rehat selama dua tahun dikungkung pandemi Covid-19.
Ajang tersebut juga bertujuan menggeliatkan kembali ekosistem industri hiburan di Kota Pendekar. ‘’Kelurahan mencari bakat ini juga menjadi ruang berekspresi. Semua potensi lokal harus dimaksimalkan,’’ tutur Pak Wali.
Maidi menjelaskan, ajang pencarian bakat bukan sekadar hiburan atau mengisi waktu luang. Namun, peserta diminta untuk serius menunjukkan kebolehannya di dunia seni tarik suara.
Dari seluruh kelurahan, akan diambil peserta terbaik yang kemudian dilombakan di tingkat kota. ‘’Untuk mencari siapa yang terbaik. Penyanyi terbaik ini lah yang akan mengisi acara di setiap kegiatan pemkot. Jadi, harus serius,’’ tuturnya.
Ibarat menyelam sambil minum air, berbagai kegiatan itu juga dimanfaatkan Pak Wali untuk menyerap aspirasi. Mulai pembangunan, program pemberdayaan, hingga kesejahteraan. Artinya, kunjungan kepala daerah tak melulu serius alias formal.
‘’Pola-pola pendekatan kepada masyarakat seperti ini penting. Supaya komunikasi pemkot dengan masyarakat tetap berjalan baik dan harmonis,’’ imbuhnya. (ggi/prog/naz) Editor : Hengky Ristanto