Tujuannya, agar upaya menekan angka stunting berjalan sesuai rencana. Sebab, gangguan tumbuh kembang anak dapat memengaruhi intelektual anak hingga kelak dewasa. Pun, persoalan tersebut bakal memengaruhi indeks pembangunan manusia (IPM) yang juga tengah diupayakan. ‘’Persoalan stunting harus bisa diselesaikan,’’ pintanya.
Maidi menyebutkan, sebanyak 922 sasaran harus dipenuhi asupan gizinya. Yakni, 408 ibu hamil (bumil) dan 514 bayi di bawah lima tahun (balita). Pemkot menggelontorkan anggaran sekitar Rp 5,4 miliar guna mengatasi persoalan stunting sampai akhir tahun ini. ‘’Anggarannya tidak sedikit. Jadi, pelaksanaan WSS harus optimal,’’ katanya.
Maidi mengklaim upaya menekan angka stunting sejauh ini menunjukkan progres positif. Jumlah balita kekurangan gizi kronis berhasil direduksi. Saat ini tercatat 12,4 persen atau 512 jiwa. Artinya, berkurang 155 dari sebelumnya 667 jiwa.
Meski begitu, catatan itu belum melegakan wali kota. Dia mematok target nihil kasus stunting 2024 mendatang. ‘’Pada 2024 nanti harus bebas stunting. Angka harus benar-benar bisa ditekan,’’ tegasnya.
Diketahui, WSS memberi tiga jenis voucher untuk sasaran. Untuk seorang ibu hamil mendapat voucher bahan mentah Rp 386 ribu per pekan. Sedangkan balita Rp 374 ribu.
Jenis kebutuhan pokok akan ditentukan tim dinkes PPKB dengan mengacu kebutuhan gizi. Voucher makanan siap saji Rp 36 ribu sepekan untuk setiap sasaran. Sementara, voucher belanja di kapak UMKM Rp 50 ribu. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto