Selama pandemi, aktivitas FPTI memang vakum. Kini, cabang olahraga (cabor) ini harus bangkit dan memulai dari awal lagi. ‘’Sebelum pandemi, ada sekitar 30 atlet yang tergabung dalam FPTI Madiun. Sekarang menyusut hingga lebih dari 70 persen,’’ ujarnya.
Menurut dia, semangat berlatih semakin berkurang. Apalagi, waktu latihan juga terbatas. Sebab, atlet yang kebanyakan pelajar pulang sekolah terlalu sore. Pun, tugas sekolah menumpuk. Beberapa sekolah juga tidak mengirim atletnya. ‘’Sebenarnya cabor panjat tebing ini bisa melatih mental dan semangat anak untuk berkompetisi,’’ tuturnya.
Sejatinya, lanjut dia, fasilitas di kota ini sudah cukup memadai dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Tidak hanya di kawasan Stadion Wilis, beberapa sekolah juga memiliki fasilitas wall climbing. ‘’Kami akan berupaya manggaet anak-anak untuk bergabung dengan membuat event lomba berdasarkan kategori usia,’’ ungkapnya.
Upaya lainnya, menyesuaikan jadwal latihan dengan kesibukan sekolah. Namun, hingga saat ini tingkat kehadiran mereka justru semakin berkurang. ‘’Tapi, kami tidak bisa memaksa. Dulu jadwal latihan tiga kali seminggu, sekarang hari Minggu saja dan tanpa biaya,’’ jelasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto