‘’Semoga anak-anak muda mau ikut belajar dan melestarikan kesenian ini,’’ ungkap Lurah Pangongangan Eva Anjarika Rahmawati.
Tari edan-edanan sering dipentaskan di acara pemerintah guna menyambut tamu. Selain itu, kesenian ini juga kerap ditampilkan untuk mengiringi pengantin.
Tujuannya menolak bala. Para penari diceritakan sebagai orang gila. ‘’Nah, kesenian ini dipercaya dapat mengusir hal gaib yang mengganggu acara,’’ terangnya.
Terlepas dari cerita dan pesan yang ingin disampaikan, kesenian ini juga menghibur. Sebab, para penari menggunakan kostum dan riasan yang unik.
Suwarsih, salah satu pegiat tari edan-edanan di Pangongangan, mengatakan bahwa saat ini tak banyak yang berminat dengan kesenian lokal tersebut.
‘’Padahal kesenian ini dapat dipelajari secara otodidak. Tinggal kemauan untuk belajar,’’ tutur penari yang akrab disapa Bu Pesek itu.
Suwarsih belajar tari edan-edanan juga secara otodidak. Di usianya yang kini menginjak 74 tahun, Suwarsih masih tetap di-job mementaskan kesenian tersebut. Bahkan, dia beberapa kali mendapat tawaran pentas di Jogjakarta, Surakarta, Surabaya, hingga Jakarta. ‘’Saya berharap ada yang mau melanjutkan berkesenian di bidang ini,’’ tuturnya. (tr2/naz) Editor : Hengky Ristanto