‘’Dari enam atlet, tiga diantaranya berhasil membawa pulang lima medali,’’ kata Ketua National Paralympic Committee (NPC) Kota Madiun Djonet Sukijanto, Jumat (18/11).
Perinciannya, Ardine meraih medali emas lompat jauh putri disabilitas rungu wicara. Nasyiva Lailatul meraih medali emas tolak peluru dan perunggu lompat jauh kategori putri disabilitas rungu wicara. Sri Lestari meraih perak lari 100 meter dan lompat jauh kategori putri disabilitas intelektual.
Menurut Djonet, raihan di ajang ini bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, tahap awal untuk kembali mendidik mereka. ‘’Kami tidak ingin berhenti sampai di sini. Kami akan terus ikutkan mereka dalam ajang lainnya untuk menambah jam terbang dan melatih mental mereka sebagai atlet berkompeten,’’ tekadnya.
Meski dengan keterbatasan fisik, mereka menunjukkan semangat luar biasa selama latihan fisik dan mental. Sebelum berlaga dalam event di Sidoarjo (14 – 16 November) lalu itu, enam atlet disabilitas ini latihan rutin seminggu dua kali.
‘’Itu kami lakukan sejak dua bulan lalu. Sejak saya menerima surat dari Disbudparpora Kota Madiun,’’ ujarnya.
Djonet bersyukur atas raihan ini. Pasalnya, para atletnya sanggup bersaing dengan wakil daerah lain. Bahkan, sempat menemui kendala.
‘’Sempat ada yang tertimpa bola tolak peluru sampai bengkak, tertabrak motor, dan ada juga yang ngambek. Namun, itu bukan alasan buat kami berhenti mendorong mereka,’’ ungkapnya.
Baginya, kendala itu wajar. Sebab, mengurus atlet disabilitas memang butuh perlakuan khusus. Hingga pada babak final, ketiga atlet Kota Madiun ini masih menunjukkan semangatnya.
‘’Ke depan kami akan tetap membina mereka untuk persiapan Peparprov Jatim Desember mendatang. Tentunya, kami butuh dukungan orang tua dan guru mereka. Sebab, mereka butuh perlakuan berbeda,’’ jelasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto