‘’Ditularkan virus menyerupai cacar yang biasa menyerang hewan ruminansia (memamah biak, Red),’’ kata sub koordinator peternakan dan kesehatan hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun Margaretha Dian Wartiningdya, Rabu (23/11).
Margaretha menyebutkan, penyakit yang menyerang kulit hewan ternak itu sejatinya tidak mematikan. Namun, tingkat infeksinya cukup tinggi. Terutama pada sapi dan kerbau. Sementara, virusnya ditularkan melalui hewan perantara seperti nyamuk, lalat penghisap darah, dan caplak
Hewan yang terserang LSD, lanjut dia, ditandai adanya bentol-bentol pada kulit. Terutama di bagian leher, kepala, kaki, dan ekor. ‘’Jika tingkat infeksinya berat, benjolan bisa merata di seluruh tubuh,’’ ungkapnya. ‘’Akibatnya, harga jual ternak bisa turun,’’ imbuhnya.
Margaretha mengatakan, dari hasil pengecekan kondisi kesehatan hewan ternak secara rutin, sejauh ini belum ditemukan adanya kasus LSD di Kota Madiun. Meski begitu, para peternak tetap diminta waspada.
‘’Para peternak kami imbau untuk sementara tidak membeli sapi dari wilayah Jawa Tengah,’’ ujarnya sembari menyebutkan saat ini pihaknya tengah menunggu alokasi anti-LSD dari pusat. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto