Kepala BPS Kota Madiun Dwi Yuhenny mengatakan, besaran inflasi 0,18 persen tersebut masih di bawah angka Jawa Timur (0,32persen). Namun, melampaui angka nasional (0,09 persen). ‘’Inflasi tertinggi sepanjang tahun ini terjadi September lalu bersamaan kenaikan harga BBM,’’ ujarnya, Kamis (1/12).
Dwi menjelaskan, kelompok pengeluaran yang paling berpengaruh pada terjadinya inflasi kali ini adalah makanan, minuman, dan tembakau (0,53 persen). Disusul transportasi (0,22 persen) serta rekreasi, olahraga, dan budaya (0,13 persen). ‘’Tapi, untuk perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga malah deflasi 0,06 persen,’’ ungkapnya.
Dia memerinci, komoditas penyumbang inflasi tertinggi kali ini adalah daging ayam ras (-0,1125 persen). Kemudian, cabai rawit (0,0661 persen), tomat (0,0334 persen), telur ayam ras (0,0297 persen), dan air kemasan (0,0245 persen).
‘’Inflasi Kota Madiun November lalu kedua terendah di antara delapan daerah di Jawa Timur. Tertinggi Jember sebesar 0,81 persen,’’ pungkasnya. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto