Terbaru, wali kota mengunjungi salah satu rumah warga di Jalan Maleo, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo. Tak hanya menuju ke satu rumah warga.
Maidi juga menyempatkan bercengkerama serta bertukar pikiran dengan warga setempat. ‘’Kalau tidak turun seperti ini, bagaimana saya tahu kondisi warga. WBR dimulai lagi setelah sempat mandek karena pandemi,’’ kata Maidi.
Boleh dibilang, fokus WBR adalah belanja masalah. Yakni, mencari serta menampung persoalan yang dialami warga untuk diurai dan dicarikan solusinya (problem solving). ‘’Pola-pola seperti ini harus dilakukan. Tidak ada sekat untuk warga kota. Apa yang dialami warga juga dirasakan kepala daerah,’’ tuturnya.
Saban hari, wali kota juga rajin gowes keliling menyapa warga. Dia mengajak serta anggota DPRD dan gerbong kepala organisasi perangkat daerah (OPD)-nya. Agar tiap persoalan yang dijumpai di lapangan bisa langsung tersolusikan. ‘’Budaya melayani bukan dilayani harus benar-benar dilaksanakan,’’ tuturnya.
Bagi Maidi seluruh warga kota wajib diperhatikan. Khususnya disabilitas dan lansia nonpotensial alias ngebrok. Kesempatan bertatap muka dengan warga itu dimanfaatkan wali kota untuk mendengarkan keluh kesah dan mewujudkan harapan warga.
‘’Insya Allah, pondok lansia segera dibangun dan difungsikan tahun depan. Banyak lansia ngebrok yang harus kita rawat bersama,’’ jelasnya.
Maidi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) lekas memproses pembangunan pondok lansia. Pemkot menggelontorkan Rp 15 miliar dari APBD 2023 untuk pembangunannya. Perinciannya, Rp 2,5 miliar untuk pematangan lahan.
Kemudian, Rp 9 miliar pembangunan gedung pondok. Lalu, Rp 3,5 miliar untuk pembangunan masjid pondok lansia. ‘’Estimasi pekerjaan sekitar enam sampai tujuh bulan. Awal tahun harus segera berjalan,’’ pungkasnya. (ggi/prog/fin) Editor : Hengky Ristanto