‘’Untuk operasional tidak ada perbedaan antara Nataru atau tidak. Pelayanan tetap maksimal seperti hari-hari biasa,’’ kata Direktur RSUD Kota Madiun Agus Nurwahyudi, Selasa (20/12).
Menurut dia, okupansi UGD pada momen Nataru biasanya meningkat. Sebab, potensi kecelakaan lalu lintas cenderung naik seiring peningkatan mobilitas masyarakat. Selain itu, tak sedikit warga yang mengalami gangguan kesehatan.
‘’Biasanya beberapa klinik atau fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) tutup. Sehingga rumah sakit ini menjadi jujukan,’’ ujarnya.
Sebaliknya, lanjut Agus, jumlah pasien rawat inap saat momen Nataru cenderung turun. Sehingga, rumah sakit tidak perlu menambah bed.
Namun, jika dibutuhkan secara kondisional, pihaknya bakal menambah tempat tidur (TT). ‘’Kalau pun harus nambah, insya Allah ada. Masih ada sejumlah bangsal yang dapat dimanfaatkan,’’ sambungnya.
Di UGD RSUD Kota Madiun tersedia sekitar 13 bed. Pun, 25 tenaga medis bertugas selama 24 jam yang terbagi dalam empat sif. Per sif masing-masing 6 petugas. ‘’Tenaga medis selalu standby. Insya Allah overall siap,’’ sebutnya.
Menurut Agus, momen Nataru tidak menutup kemungkinan kembali mengerek kasus penularan Covid-19. Sebab, saat ini (kemarin, Red) masih ada pasien rawat inap yang terpapar virus korona.
Antisipasinya, tiga bed disediakn khusus untuk pasien Covid-19 di UGD. Pun, 16 bed untuk isolasi pasien Covid-19. ‘’Tapi, kami berharap tidak terjadi lonjakan,’’ tutupnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto