‘’Bantuan tidak hanya materi, dukungan moril juga penting. Karena tugas kami memang melayani, bukan dilayani,’’ katanya, Sabtu (24/12).
Jumat lalu (23/12), Maidi mendatangi rumah lansia ngebrok di Demangan, Nambangan Kidul, dan Kartoharjo. Menurut Maidi, sudah sepantasnya kepala daerah turun ke masyarakat. Sehingga, persoalan yang dialami warga dapat diketahui dan segera ditindaklanjuti untuk diselesaikan.
‘’Lansia ngebrok tidak bisa apa-apa. Pemerintah harus hadir untuk menjamin kebutuhan mereka,’’ ujarnya.
Maidi menambahkan, pemkot juga merekrut 200-300 PSM di seluruh kelurahan. Tugas mereka mengawasi kesehatan hingga merawat lansia ngebrok yang hidup sebatang kara. Penambahan tenaga PSM untuk mengimbangi jumlah lansia yang mencapai ratusan jiwa.
‘’Kalau tidak ada PSM, pemkot kesulitan menangani. Persoalan lansia ngebrok harus dibantu diselesaikan. Sudah saya instruksikan kelurahan dan kecamatan untuk optimalisasi penanganan lansia,’’ ungkapnya.
Selain itu, pemkot telah menambah bantuan sosial (bansos) untuk lansia ngebrok. Yakni, Rp 8,2 per jiwa per tahun. Nominal itu naik Rp 5,7 juta dari sebelumnya hanya Rp 2,5 juta. Pemkot menyediakan anggaran sekitar Rp 1,2 miliar untuk 147 jiwa lansia ngebrok.
Pertimbangannya, harga kebutuhan pokok naik imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). ‘’Karena kebutuhan mereka banyak, bantuan akan kami tambah,’’ sambungnya.
Sementara pembangunan pondok lansia di kawasan lapak UMKM Bumi Semendung, Klegen, Kartoharjo, juga terus berprogres. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan seluas dua hektare. Rencananya, proyek itu dibiayai APBD 2023. ‘’Pondok lansia terus jalan. Insya Allah awal tahun depan mulai pengerjaan,’’ jelasnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto