Terbaru, lima warga Kelurahan Patihan, Manguharjo, terjangkit DBD. Pun, dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkes PPKB) bersama BPBD, Rabu (28/12) melakukan fogging di sekitar lokasi warga yang terjangkit.
‘’Fogging (pengasapan) dilakukan sesuai hasil penyelidikan epidemiologi. Jadi, di mana ada temuan kasus kami fogging,’’ kata Kepala Dinkes PPKB dr Denik Wuryani kepada Jawa Pos Radar Madiun.
Denik menyebutkan, tren kasus DBD sejak Agustus silam sejatinya cenderung menurun. Sepanjang bulan itu hanya tercatat tujuh kasus. Kemudian, pada September turun menjadi enam dan Oktober sembilan kasus.
Bahkan, bulan lalu hanya tercatat dua warga yang terjangkit. ‘’Cuaca yang kadang hujan dan kadang tidak yang menyebabkan nyamuk berkembang biak lebih cepat,’’ ungkapnya.
Sepanjang Januari hingga kemarin, lanjut Denik, di Kota Madiun tercatat ada 209 kasus DBD. Dua pasien di antaranya meregang nyawa akibat penyakit tersebut. ‘’Dibanding tahun lalu, jumlah kasus tahun ini lebih banyak,’’ tutur Denik.
Denik memerinci, penderita DBD tahun ini mayoritas kalangan anak usia 5-14 tahun dengan 114 kasus dan dua kematian. Disusul 15-44 tahun sebanyak 71 kasus. Kemudian, 1-4 tahun (12 kasus), 45 tahun ke atas (10 kasus), dan di bawah sa tu tahun (dua kasus).
‘’Selain menerapkan 3M plus (menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan kembali barang bekas, Red), jika anggota keluarganya mengalami demam segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,’’ pintanya.
Dia menambahkan, tim dinkes PPKB akan mengintensifkan pemantauan di wilayah-wilayah rawan DBD. Selain fogging di wilayah temuan kasus, program juru pemantau jentik (jumantik) yang telah berjalan bakal dioptimalkan.
‘’Upaya sudah kami lakukan. Kami berharap masyarakat menjaga kebersihan lingkungan masing-masing,’’ tuturnya. ‘’Semua wilayah di Kota Madiun berpotensi,’’ imbuhnya. (ggi/isd) Editor : Hengky Ristanto