‘’Agar ketika produksi gas di zona sebelumnya menipis atau habis, sudah ada titik produksi baru,’’ kata Sunu Nurhadi, subkoordinator pengolahan dan pengurangan sampah bidang pengelolaan sampah dan B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun, Minggu (15/1).
Sedikitnya 70 batang pipa berukuran 4 dim yang dipasang. Lokasinya di antara dua zona aktif lama. Titik baru mampu menyuplai gas metan hingga lima tahun ke depan.
‘’Ini agar suplai gas tidak mandek. Jadi, kalau habis tidak butuh waktu lama menunggu gas tersuplai kembali untuk masyarakat yang memanfaatkan,’’ ujarnya.
Sejauh ini produksi gas hasil penguraian sampah organik oleh bakteri tersebut tanpa hambatan. Pun, harus diolah dan dimanfaatkan. Jika terbuang, akan berdampak pada pemanasan global atau mempercepat efek rumah kaca. ‘’Ada ratusan warga yang telah memanfaatkan gas metan produksi TPA Winongo,’’ sebutnya.
Pun, dimanfaatkan untuk dapur umum di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) setempat. Di dapur umum tersebut disediakan 30 tungku kompor berbahan bakar gas metan. Kelak bakal menjadi pusat dapur darurat jika dibutuhkan.
Selain itu, gas metan juga dimanfaatkan sebagai pemanas air yang uapnya untuk sauna. ‘’Wali kota juga berencana mengemas gas metan dalam tabung agar mudah didistribusikan ke warga.’’ pungkasnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto