‘’Saya cek di rumah sakit masih ada kasus DBD. Ini patut diwaspadai,’’ kata Wali Kota Maidi, Sabtu (14/1).
Berdasarkan catatan dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkes PPKB) setempat, tren kasus DBD sejak Agustus 2022 lalu sejatinya cenderung menurun. Sepanjang bulan itu hanya tercatat tujuh kasus.
Kemudian, pada September turun menjadi enam dan Oktober sembilan. Bahkan, bulan lalu hanya tercatat dua warga yang terjangkit. ‘’Cuaca yang kadang hujan dan kadang tidak yang menyebabkan nyamuk berkembang biak lebih cepat,’’ ungkapnya.
Sepanjang 2022, lanjut Maidi, di Kota Madiun tercatat ada 209 kasus DBD. Dua pasien di antaranya meregang nyawa akibat penyakit tersebut. ‘’Dibanding tahun 2021, jumlah kasus tahun 2022 lebih banyak. Maka dari itu, memasuki 2023 harus bisa ditekan serendah mungkin,’’ tutur Maidi.
Maidi memerinci, penderita DBD tahun ini mayoritas kalangan anak usia 5-14 tahun dengan 114 kasus dan dua kematian. Disusul 15-44 tahun (71), 1-4 tahun (12), 45 tahun ke atas (10), dan di bawah satu tahun (dua).
‘’Selain menerapkan 3M plus (menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan kembali barang bekas, Red), jika ada anggota keluarga yang mengalami demam segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,’’ pintanya.
Maidi mengaku telah memerintahkan tim dinkes PPKB untuk intensif melakukan pemantauan di wilayah-wilayah rawan DBD. Selain fogging di titik temuan kasus, program juru pemantau jentik (jumantik) yang telah berjalan bakal dioptimalkan.
‘’Upaya sudah kami lakukan. Kami berharap masyarakat menjaga kebersihan lingkungan masing-masing,’’ pungkasnya. (ggi/isd)
DBD 2022 DALAM ANGKA
209 total kasus
2 pasien meninggal
PENDERITA DBD BERDASARKAN KELOMPOK USIA
2 usia di bawah 1 tahun
12 usia 1-4 tahun
114 usia 5-14 tahun
71 usia 15-44 tahun
10 usia 45 tahun ke atas Editor : Hengky Ristanto