Menurut Wali Kota Madiun Maidi, untuk urusan kebersihan lingkungan, pemkot memang melibatkan partisipasi aktif warga. Karena itu, agar lebih optimal anggaran tahun ini ditambah. ‘’Sebelumnya per RW, sekarang per RT,’’ kata Maidi, Minggu (15/1).
Dia menilai anggaran tersebut perlu disalurkan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Mulai gang, saluran air, pekarangan hingga fasilitas umum (fasum) setempat. Termasuk pengadaan peralatan kebersihan.
‘’Saya yakin kalau yang membersihkan lingkungan mereka sendiri pasti jauh lebih bersih. Karena juga untuk mereka lagi,’’ ujarnya.
Maidi berharap prolisih dapat meningkatkan kesadaran warga. Apalagi pada musim penghujan yang antara lain ditengarai saatnya nyamuk berkembang biak. ‘’Jaga kebersihan lingkungan masing-masing, itu kuncinya,’’ pesan Maidi.
Pemkot, lanjut Maidi, juga berkomitmen memenuhi penyediaan akses sanitasi layak dan aman agar tak memicu beragam penyakit. Bahkan, menurut dia, masalah terkait sanitasi layak dan aman harus segera diselesaikan. ‘’Akar masalah yang kemungkinan akan terjadi ke depan juga harus diantisipasi,’’ pintanya.
Saat ini Kota Madiun termasuk daerah open defecation free (ODF) atau bebas dari buang air besar (BAB) sembarangan. Menurut dia, itu lantaran program jambanisasi sudah terpenuihi. Sebab, setiap tahun dianggarkan pembangunan fasilitas umum berbasis sanitasi baru dan pemeliharaan.
Pun, pengolahan limbah secara sehat berkelanjutan. Yakni, mengubah perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Sebab, kondisi itu linier dengan angka harapan hidup (AHH) serta stunting. Di sisi lain, Kota Madiun telah mendeklarasikan lima pilar sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
Pun, menyabet sejumlah penghargaan tingkat nasional. Di antaranya, Kota/Kabupaten STBM Award Berkelanjutan, Kota/Kabupaten Penerapan Lima Pilar STBM, serta Kota/Kabupaten Terbaik STBM Berkelanjutan Dimensi Peningkatan Kebutuhan Sanitasi (Demand Creation). ‘’Capaian ini bukti bahwa Kota Madiun sehat,’’ klaimnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto