Menurut dia, pelaksanaan belum dimulai lantaran masuk jadwal jeda proyek fisik momen Idul Fitri. Yakni, mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Meski begitu, pihaknya optimistis rekanan dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang ditentukan. Yakni, September mendatang. ‘’Sesuai kontrak, selama enam bulan. Insya Allah selesai sesuai jadwal,’’ ujarnya.
Rencananya, titik normalisasi saluran dimulai dari selatan hingga utara. Dari depan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Budug hingga perempatan jembatan Manguharjo. Trotoar sisi barat jalan bakal dibongkar dan dipasang reinforced concrete box (RCB) atau gorong-gorong. Lalu, di atasnya dibangun trotoar pedestrian. ‘’Kami normalisasi dulu saluran airnya. Sedangkan untuk konsep, sama seperti trotoar sisi utara di Jalan Perintis Kemerdekaan,’’ ungkapnya.
Suyanto menyebutkan, trotoar tersebut panjangnya sekitar 650 meter dengan ketinggian hanya 15 sentimeter. Lebarnya sesuai existing. Sedangkan lantai trotoar bermaterial rigid beton. ‘’Sepanjang Jalan Mayjend Sungkono mulai selatan hingga utara dibangun semiparkir,’’ jelasnya.
Menurut Suyanto, konsep tersebut mempertimbangkan kondisi jalan yang sempit serta potensi lalu lintas (lalin) crowded di ruas jalan tersebut. Pun, acap dijumpai kendaraan parkir di bahu jalan protokol ini sehingga lalu lintas tidak lancar. ‘’Pemanfaatannya sama seperti di Jalan Perintis Kemerdekaan,’’ terangnya.
Dia menambahkan, untuk memuluskan proyek senilai Rp 2,3 miliar tersebut, kelak arus lalu lintas (lalin) bakal diberlakukan satu arah selama proses pelaksanaan. Sebab, mobilitas pekerja dan alat berat berpotensi mengganggu arus lalin. Pun badan jalan yang relatif sempit tidak memungkinkan jika arus lalin diberlakukan dua arah. Apalagi mobilitas kendaraan di ruas jalan tersebut cukup tinggi. Jika dipaksakan, berpotensi terjadi penumpukan kendaraan alias crowded. ‘’Rekayasa lalin akan segera kami bahas dengan dishub (dinas perhubungan) dan satlantas polres setempat,’’ pungkasnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto