Ratusan pasukan gabungan disiapkan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadinya bencana di kota ini. ‘’Sebagian wilayah Kota Madiun dilintasi air dari wilayah atas. Sehingga, kewaspadaan genangan air perlu diwaspadai sejak dini,’’ kata Walikota Madiun Maidi yang memimpin apel tersebut.
Menurut dia, wilayah Kecamatan Manguharjo yang paling sering dilalui air. Pun, banyak pepohonan yang harus tetap terlindungi demi mencegah potensi tumbang. ‘’Bencana tidak bisa diprediksi kedatangan dan dampak kerugiannya. Pohon yang keropos harus segera ditebang. Sedangkan sampah di selokan segera dibersihkan,’’ pintanya.
Pemkot pun menambah satu kelurahan atau desa tangguh bencana (destana). Peresmian tersebut ditandai dengan distribusi anggaran kebersihan lingkungan di setiap rukun tetangga (RT). ‘’Masing-masing RT sekitar Rp 5 juta dari APBD. Saya berharap ini langkah yang tepat untuk mengantisipasi bencana. Begitu pun masyarakat terus kami lakukan pembinaan,’’ ujarnya.
Kalaksa BPBD Kota Madiun Wahyudi menambahkan destana diharapkan mampu mengatasi masalah kebencanaan. Salah satunya, cuaca ekstrem saat ini yang menjadi kewaspadaan khusus. Apalagi, hujan dengan instensitas tinggi yang mengguyur Kota Madiun dua hari lalu sempat menimbulkan genangan di beberapa titik pusat kota.
Antara lain di Jalan Pahlawan, Jalan Diponegoro, dan wilayah Nambangan Kidul. ‘’Ini bukan banjir, hanya genangan air. Sebab, kami telah mengecek setiap saluran air tidak ada gangguan sama sekali. Hanya hujan yang cukup deras membuat air aliran air tidak bisa lancar,’’ sebutnya.
Wahyudi menyebutkan, genangan air seperti ini wajar. Sebab, kurang dari satu jam langsung surut. Namun, pihaknya berharap masyarakat tidak panik dengan membuat postingan di media sosial. ‘’Kami dipastikan tidak ada gangguan saluran air. Kami berharap masyarakat memilah informasi yang diterima. Sebab banjir dan genangan memiliki makna berbeda,’’ pungkasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto