---------
SUARA kendang terdengar dari sebuah sanggar yang terletak di Jalan Tawang Bakti, Kelurahan Tawangrejo. Alat musik tradisional itu dimainkan Waidi secara luwes. Sementara, beberapa orang lainnya memainkan gamelan. ‘’Saya sudah belajar memainkan kendang ini sejak masih SMA,’’ katanya kemarin (13/6).
Sebelum menjadi aparatur sipil negara (ASN), Waidi memang seorang seniman. Dia piawai bermain karawitan. Keterampilan itu diperoleh secara turun-temurun dari orang tuanya. ‘’Di rumah memang ada alat musik gamelan lengkap. Bahkan, saya dulu sering ikut keluarga manggung,’’ ungkap pria 58 tahun tersebut.
Bahkan, saat ini, Waidi mempunyai grup campursari. Kelompok itu dinamainya Tawang Budhoyo. Selain itu, sesekali dirinya juga acap kali diminta untuk tampil sebagai master of ceremony (MC) di acara pernikahan. ‘’Karena padatnya jadwal pekerjaan, beberapa job menjadi MC itu saya berikan kepada teman. Tapi, ketika longgar ya saya ambil,’’ ujarnya.
Sebagai lurah yang memiliki jiwa seni, tentu Waidi ingin mengangkat sekaligus menggali potensi kesenian di Tawangrejo. Dia memfasilitasi siapa pun termasuk anak-anak muda untuk belajar kesenian karawitan di kantor kelurahan.
‘’Sejak menjadi lurah di Tawangrejo sekitar 1,5 tahun lalu, saya coba aktifkan kembali para pelaku seni yang ada di sini,’’ terangnya.
Hasilnya, 15 warganya mau diajak join karawitan. Mereka bukan orang baru. Tetapi memang seniman. Sehingga, ketika membentuk sebuah kelompok tidak membutuhkan adaptasi lama. ‘’Saya sendiri yang memainkan kendang,’’ kata Waidi yang berdomisili di Jalan Basuki Rahmat itu.
Berkat keterampilannya tersebut, Waidi menerima satu set alat musik gamelan dari Wali Kota Maidi. Dari situ, dirinya berusaha terus eksis melestarikan kesenian tradisional di samping menjadi pelayan masyarakat. ‘’Lagu yang kami bawakan juga dikombinasikan dengan lagu-lagu baru. Biar anak muda tergugah semangatnya untuk ikut melestarikan musik karawitan,’’ ujarnya. (mg4/her) Editor : Hengky Ristanto