MADIUN – Musibah menimpa keluarga Nurhayati, warga Jalan Sultan Agung, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo.
Atap rumahnya ambruk beberapa hari menjelang Lebaran.
Kerugian ditaksir mencapai Rp 20 juta.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 10.00 saat korban berada di dalam rumah.
Anak korban yang masih duduk di bangku SD lebih dulu mendengar suara kayu patah sebelum atap roboh.
Bagian yang paling parah berada di ruang makan dan kamar belakang.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
’’Alhamdulillah tidak ada korban, hanya rumah yang rusak,’’ ujar Nurhayati, Selasa (17/3).
Rumah tersebut merupakan bangunan lama peninggalan orang tua.
Dibangun sekitar 1970 dan belum pernah direnovasi.
Kondisi kayu penyangga yang sudah lapuk diduga menjadi penyebab utama ambruknya atap.
Kasi Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Kota Madiun Heter Hidayati membenarkan hal tersebut.
Menurutnya, material kayu yang sudah rapuh tidak mampu menahan beban, terutama setelah diguyur hujan.
’’Diduga karena kayu sudah lapuk sehingga tidak kuat menahan beban,’’ jelasnya.
BPBD langsung melakukan asesmen dan menyalurkan bantuan logistik.
Di antaranya terpal, sembako, matras, hingga perlengkapan kebersihan.
Sementara itu, Plt Lurah Winongo Dian Puspita mengatakan pihaknya bersama warga akan melakukan kerja bakti membersihkan material bangunan.
Korban untuk sementara tinggal di rumah kerabat di bagian belakang lokasi.
Dian menambahkan, rumah tersebut sebenarnya sudah diusulkan dalam program rumah tidak layak huni (RTLH).
Namun prosesnya terkendala status kepemilikan lahan yang masih berupa warisan.
’’Sudah kami usulkan, tapi terkendala sertifikat,’’ ujarnya.
Pemkot akan kembali mengusulkan rumah tersebut sebagai prioritas perbaikan pada 2027.
Tahun ini, kasus rumah roboh di Kota Madiun tercatat sudah terjadi dua kali.
Mayoritas dipicu kondisi bangunan yang sudah tua dan lapuk. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto