Jawa Pos Radar Madiun – Masyarakat Madiun Raya diminta tidak lengah meski cuaca pagi cenderung panas.
BMKG mendeteksi potensi cuaca ekstrem akibat pengaruh eks siklon tropis Narelle di Samudra Hindia.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris mengatakan, eks siklon memicu perubahan pola angin di Jawa Timur.
“Aliran massa udara saat ini didominasi angin baratan yang membawa kelembapan tinggi,” ujarnya, Selasa (24/3).
Peningkatan kecepatan angin juga terpantau di perairan utara dan selatan Jawa Timur.
Baca Juga: Pendakian Gunung Lawu Magetan Diserbu Wisatawan, 1.500 Pendaki Dalam Dua Hari
Kondisi ini diperkuat adanya pertemuan angin (shearline) yang memicu pertumbuhan awan konvektif.
Akibatnya, Jawa Timur memasuki masa peralihan musim hujan ke kemarau.
Potensi hujan sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi, terutama siang hingga sore.
“Hujan bisa disertai kilat dan angin kencang,” imbuhnya.
Untuk wilayah Madiun Raya, cuaca tiga hari ke depan diperkirakan cerah berawan pada pagi hingga siang.
Baca Juga: Lebaran 2026, Produksi Sampah di Madiun Naik hingga 48 Ton per Hari
Namun, potensi hujan lokal tetap tinggi, terutama di lereng Gunung Lawu dan Wilis.
“Wilayah Magetan, Ngawi, Madiun, dan Ponorogo rawan hujan lokal,” jelasnya.
BMKG juga mengingatkan potensi gelombang sedang hingga tinggi di perairan selatan Jawa Timur dan Selat Bali.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.
“Waspada terhadap cuaca ekstrem untuk meminimalkan risiko,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto