Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca di wilayah Madiun beberapa hari terakhir tak menentu.
Pagi hingga siang terasa panas, namun sore hingga malam diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi pergerakan eks siklon tropis Narelle di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur.
Fenomena itu memicu tarikan massa udara yang memengaruhi pola angin di Jawa Timur.
Saat ini, angin baratan mendominasi dengan membawa kelembapan tinggi dari Samudra Hindia dan Laut Jawa.
’’Terjadi peningkatan kecepatan angin dan pertemuan angin (shearline) di atas Jawa yang memicu pertumbuhan awan hujan,’’ ujarnya, Jumat (27/3).
Jawa Timur saat ini memasuki masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Namun, potensi hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang hingga sore hari.
Hujan diperkirakan berintensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang. Kondisi ini berpotensi terjadi secara lokal.
Untuk wilayah Madiun Raya, cuaca dalam tiga hari ke depan didominasi cerah berawan dengan suhu cukup panas pada pagi hingga siang.
Meski demikian, potensi hujan lokal tetap perlu diwaspadai.
’’Wilayah Magetan, Ngawi, Madiun, dan Ponorogo berpotensi hujan lokal,’’ imbuhnya.
BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan gelombang di perairan selatan Jawa Timur dan Selat Bali akibat kecepatan angin.
Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
’’Tetap waspada terhadap cuaca ekstrem untuk meminimalkan risiko,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto