Jawa Pos Radar Madiun – Lonjakan harga plastik menghantam pelaku usaha kecil di Kota Madiun.
Kenaikan bahkan mencapai 80 hingga 100 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini dipicu terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
Salah satu pedagang siomay dan batagor di Pasar Besar Madiun, Mila, mengaku kenaikan mulai terasa sejak sebelum Lebaran.
’’Kenaikannya cepat sekali. Dua hari bisa naik lagi,’’ ujarnya, Minggu (5/4).
Untuk bertahan, pedagang memilih tidak menaikkan harga jual.
Namun, porsi dikurangi agar pelanggan tidak berkurang.
Harga cup gelas ukuran 22 naik dari Rp 14 ribu menjadi Rp 22 ribu.
Twin ball dari Rp 24 ribu menjadi Rp 31 ribu.
Sementara styrofoam tembus Rp 30 ribu.
Pedagang mulai mencari solusi.
Salah satunya beralih ke kertas minyak yang dinilai lebih stabil.
’’Kalau terus naik, bisa beralih ke kertas minyak,’’ imbuh Mila.
Pengelola toko plastik, Agus, membenarkan kenaikan harga terjadi bertahap.
’’Awalnya naik 10–15 persen, lalu 30–40 persen, sekarang hampir 100 persen,’’ ujarnya.
Dampaknya, permintaan menurun.
Pembelian yang biasanya 10 unit kini hanya sekitar lima.
Agus menyebut kenaikan dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik berupa nafta.
Ketersediaan barang juga terbatas.
Dari permintaan 10 barang, hanya terpenuhi 3–5 barang.
’’Fenomena ini baru pertama trjadi,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto