Jawa Pos Radar Madiun – Pelaku UMKM kembali terjepit.
Lonjakan harga bahan baku memaksa perajin keripik tempe di Kota Madiun menaikkan harga jual.
Kenaikan paling terasa pada plastik kemasan.
Perajin di Kelurahan Nambangan Kidul, Anita Zuhudi menyebut harga plastik melonjak hampir dua kali lipat.
“Dulu Rp 34 ribu, sekarang Rp 60 ribu per kilo,” ujarnya.
Kenaikan juga terjadi pada bahan lain.
Harga kedelai dan tepung naik dari Rp 205 ribu menjadi Rp 220 ribu per 25 kilogram.
Sementara minyak goreng masih bertahan di kisaran Rp 200 ribuan.
Lonjakan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi.
Anita terpaksa menyesuaikan harga jual.
Dari Rp 50 ribu menjadi Rp 55 ribu per kilogram.
Bahkan berpotensi naik hingga Rp 60 ribu.
“Kalau tidak dinaikkan, tidak ada untung,” katanya.
Produksi pun ikut terdampak. Saat ini hanya berkisar 15–20 kilogram per hari.
Turun dibanding sebelum pandemi yang mencapai 30 kilogram.
Untuk menekan biaya, usaha kini dijalankan berdua bersama suami. Tanpa melibatkan karyawan.
“Sekarang dikerjakan berdua,” ujarnya.
Meski harga naik, penjualan relatif stabil.
Pelanggan dinilai masih memahami kondisi tersebut.
Di sisi lain, pemasaran digital mulai dimanfaatkan.
Media sosial membantu menjangkau pasar luar kota. Mulai wilayah Madiun Raya hingga Gresik.
Anita berharap ada dukungan pemerintah bagi UMKM.
Terutama terkait stabilitas harga bahan baku dan pemasaran.
“Semoga harga bisa kembali stabil,” tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto