MADIUN – Pergeseran musim mulai terasa di wilayah Madiun Raya. BMKG mencatat angin monsun Australia mulai menguat dan mendominasi Jawa.
Namun, hujan belum sepenuhnya berakhir.
Dalam beberapa hari ke depan, hujan masih berpotensi turun dengan intensitas beragam di sejumlah wilayah.
Kondisi ini dipengaruhi melemahnya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Banten.
Meski demikian, peluang hujan sedang hingga lebat masih tetap ada, bahkan dapat disertai petir.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, mengatakan cuaca di Madiun Raya saat ini masih didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan.
Namun, potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi tetap perlu diwaspadai di sejumlah daerah.
’’Khusus wilayah Magetan, Ponorogo, dan Ngawi masuk kategori siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Sementara itu, potensi angin kencang dalam periode ini terpantau nihil,’’ ujarnya, Selasa (14/4).
Wilayah lain seperti Kabupaten Madiun dan Pacitan juga berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat secara lokal.
Menurut Setiyaris, angin timuran dari Australia yang identik dengan musim kemarau tidak serta-merta menghentikan hujan.
Kondisi atmosfer yang masih labil serta konveksi lokal akibat pemanasan siang hari tetap memicu pembentukan awan hujan.
Selain itu, gangguan atmosfer skala regional seperti gelombang ekuatorial turut memperkuat potensi curah hujan di wilayah Jawa.
Setiyaris menegaskan, masa peralihan musim berlangsung secara bertahap.
Cuaca saat ini masih dipengaruhi tarik-menarik antara angin baratan dan timuran.
’’Monsun Australia merupakan sinyal awal musim kemarau, bukan faktor yang langsung menghentikan hujan,’’ tegasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto