Jawa Pos Radar Madiun – Di usianya yang ke-76 tahun, Mis Miasih akhirnya bersiap menjejak Tanah Suci.
Perempuan yang akrab disapa Mak Sih itu menjadi calon jemaah haji (CJH) tertua asal Kota Madiun tahun ini.
Perjalanan panjangnya dimulai dari sesuatu yang sederhana: uang receh hasil berdagang.
Sejak 1960, Mak Sih menyisihkan Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu setiap hari. Uang itu berasal dari jualan cendol, janggelan, hingga tape ketan hitam di Pasar Besar Madiun.
“Dulu jualan cendol, janggelan, sama tape ketan hitam,” ujarnya, kemarin (24/4).
Tak ada yang instan. Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu disimpan bertahun-tahun. Hingga akhirnya cukup untuk mendaftar haji pada 2012.
Langkah kecil yang dijaga konsisten itu perlahan menjadi jalan besar. Di tengah keterbatasan, keluarga ikut memberi dukungan hingga impian itu semakin dekat.
Mak Sih dijadwalkan berangkat pada Senin (27/4) bersama kloter 22. Dia akan ditemani adik, ipar, dan seorang keponakan.
Perjalanan ini menjadi yang pertama baginya ke Tanah Suci. Bahkan, dia belum pernah menjalani umrah sebelumnya.
Menjelang keberangkatan, persiapan dilakukan dengan disiplin. Setiap pagi, Mak Sih berjalan kaki untuk menjaga kebugaran. Pola makan dijaga, pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan.
“Persiapan sudah sekitar 90 sampai 100 persen,” katanya.
Koper CJH akan dikumpulkan besok (26/4). Dia juga menyiapkan obat-obatan untuk kebutuhan selama 42 hari di Arab Saudi, mengingat memiliki riwayat hipertensi.
Rasa gugup sempat datang. Namun, bagi Mak Sih, perjalanan ini bukan sekadar ibadah, melainkan buah dari kesabaran puluhan tahun.
“Semoga diberi sehat dan semua keluarga diberi umur panjang serta kesuksesan,” ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto