Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman inflasi dari sektor pangan mulai diwaspadai.
Bank Indonesia (BI) mengingatkan potensi tekanan harga hingga akhir tahun seiring anomali cuaca dan dinamika global.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri Deasi Surya Andarina menyebut komoditas pangan menjadi sektor paling rentan.
Prediksi gangguan cuaca berpotensi mengganggu produksi pertanian.
“Yang perlu diwaspadai ke depan memang pangan, karena ada potensi gangguan cuaca hingga akhir tahun,” ujarnya usai High Level Meeting TPID dan TP2DD di Hotel Mercure Madiun, kemarin (29/4).
Selain faktor cuaca, kenaikan harga minyak dunia turut memberi dampak berantai.
Salah satunya memicu kenaikan harga pupuk yang berimbas pada biaya produksi petani.
“Harga minyak memengaruhi harga pupuk. Ini berdampak pada ongkos produksi pertanian,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Karena itu, BI mendorong pemerintah daerah memperkuat program ketahanan pangan seperti urban farming dan pangan lestari.
“Program itu bisa ditingkatkan untuk menjaga ketersediaan pangan,” tegasnya.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menekankan pentingnya validitas data dalam menyusun kebijakan pengendalian inflasi.
“Jangan hanya berhenti di saran. Data harus valid supaya intervensi tepat sasaran,” ujarnya.
Menurut dia, dampak global mulai terasa di lapangan, terutama pada kenaikan harga barang dan jasa.
Bahkan, sejumlah harga sudah melampaui standar harga satuan (SHS) dalam perencanaan APBD 2026.
“Harga sekarang sudah di atas SHS. Ini perlu dikomunikasikan dengan pemerintah pusat,” jelasnya.
Meski demikian, kebutuhan pokok dinilai masih relatif aman. Namun, potensi kenaikan komoditas lain tetap diwaspadai.
“Kebutuhan pokok masih aman, tapi yang lain bisa ikut terdampak,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto