MADINAH, Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca ekstrem di Madinah menjadi perhatian serius jemaah haji asal Kota Madiun yang tergabung dalam Kloter SUB 22.
Suhu tinggi dengan udara kering memaksa pembatasan aktivitas, terutama bagi jemaah lansia dan yang memiliki penyakit bawaan.
Ketua Kloter SUB 22, Zainal Arifin, memastikan kondisi jemaah secara umum dalam keadaan sehat. Namun, potensi gangguan kesehatan tetap diwaspadai.
“Secara umum baik, sehat. Tapi cuaca panas dengan udara kering, sehingga jemaah dengan penyakit bawaan diminta mengurangi aktivitas di luar,” ujarnya, Senin (4/5).
Baca Juga: Tuntas! 7 CJH Cadangan Ponorogo Akhirnya Berangkat ke Tanah Suci
Saat ini, aktivitas jemaah difokuskan untuk beribadah di Raudhah.
Akses dilakukan melalui dua jalur, yakni mandiri menggunakan aplikasi Nusuk serta fasilitas khusus bagi jemaah lansia dan berisiko tinggi (risti).
Melalui fasilitas Seksi Khusus (Seksus) Nabawi, sekitar 150 jemaah perempuan dan 100 laki-laki telah difasilitasi masuk tanpa aplikasi.
Namun, kuota tersebut kini telah habis sehingga jemaah lebih banyak mengakses secara mandiri.
Suhu di Madinah yang mencapai sekitar 40 derajat Celsius pada siang hari dengan kelembapan rendah turut berdampak pada kondisi fisik jemaah.
Baca Juga: Cuaca Madinah Picu Kulit Pecah pada CJH SUB 22, Ini Imbauan Petugas
Keluhan yang muncul antara lain bibir pecah-pecah dan kulit kering.
Karena itu, aktivitas luar ruangan dibatasi, terutama pada pukul 10.00–16.00 waktu Arab Saudi (WAS).
Jemaah lansia dan yang memiliki komorbid dianjurkan melaksanakan salat Dhuhur dan Ashar di hotel.
Selain itu, jemaah diminta menggunakan pelindung diri seperti payung, sandal, dan masker saat beraktivitas di luar, serta rutin mengonsumsi air putih, oralit, atau air zamzam tanpa menunggu haus.
“Kami sarankan menggunakan pelembap untuk mengurangi dampak udara kering,” tambah Zainal. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto