Jawa Pos Radar Madiun – Laju harga sejumlah komoditas di Kota Madiun dalam sebulan terakhir terpantau melandai.
Kondisi tersebut membuat Kota Madiun mengalami deflasi 0,02 persen secara bulanan (month to month/m-to-m) pada April.
Kepala Badan Pusat Statistik, Abdul Aziz, menyebut ada empat faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
Yakni momentum pasca Idulfitri, dampak geopolitik global, perkembangan harga BBM nonsubsidi, serta penurunan harga emas perhiasan.
“Pasca Lebaran, tarif angkutan dan harga makanan kembali normal sehingga menekan inflasi,” ujarnya, Rabu (6/5).
Namun di sisi lain, faktor geopolitik global turut memberi tekanan terhadap harga komoditas.
Gangguan distribusi dan pelemahan nilai tukar rupiah memicu kenaikan sejumlah barang impor.
“Geopolitik memengaruhi banyak sektor. Nilai tukar melemah, komoditas impor ikut naik,” jelasnya.
BPS mencatat kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti tempe, nasi dengan lauk, mi, bakso siap saji, hingga popok bayi.
Kenaikan juga terjadi pada bahan baku industri, termasuk komponen elektronik seperti telepon seluler dan laptop.
Sementara itu, harga emas perhiasan justru mengalami penurunan mengikuti tren pasar global.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak 18 April diperkirakan akan berdampak pada inflasi bulan berikutnya.
Aziz menyebut rata-rata harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.900 per liter, Dexlite Rp26.000, dan Pertamina Dex Rp27.900 per liter.
“Kenaikan BBM ini berpotensi mendorong inflasi ke depan, terutama pada sektor transportasi dan kemasan plastik,” imbuhnya.
Karena itu, BPS mengimbau pemerintah daerah menjaga stabilitas pasokan bahan pokok dan keterjangkauan harga.
Masyarakat juga diminta lebih bijak menggunakan BBM serta mengurangi konsumsi plastik.
“Perlu digalakkan kampanye pengurangan plastik dan belanja bijak, termasuk mendukung UMKM lokal,” pungkas Aziz. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto