Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Perdagangan Kota Madiun angkat bicara terkait lonjakan harga kedelai impor yang kini melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain bahan baku, kenaikan harga plastik kemasan juga mulai membebani pelaku usaha tempe.
Kabid Usaha Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Madiun, Siti Nurjanah, mengatakan harga kedelai impor mengalami kenaikan dalam satu hingga dua bulan terakhir.
“Saat ini harga kedelai impor sudah di atas HET Rp12 ribu per kilogram,” ujarnya, Kamis (7/5).
Menurut dia, mayoritas pengrajin tempe di Kota Madiun menggunakan kedelai impor asal India dan Brasil karena kualitas fermentasinya dinilai lebih baik dibanding kedelai lokal.
“Teksturnya lebih mengembang untuk produksi tempe,” jelasnya.
Kenaikan harga kedelai berdampak langsung terhadap sentra pengrajin tempe di Lingkungan Kayen, Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo.
Dari sebelumnya sekitar 50 pengrajin, kini hanya tersisa 27 pelaku usaha yang masih bertahan.
Tak hanya kedelai, harga plastik kemasan juga melonjak hingga dua kali lipat.
Kondisi tersebut dipicu dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang ikut memengaruhi rantai pasok bahan baku industri.
“Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan keuntungan pelaku usaha kecil,” ungkap Siti.
Untuk mengurangi biaya produksi sekaligus menekan timbulan sampah plastik, Disdag mendorong pelaku usaha mulai menggunakan bahan kemasan ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, maupun kertas.
Masyarakat juga diimbau membiasakan membawa tas belanja sendiri saat berbelanja di pasar tradisional.
“Kalau penggunaan plastik dikurangi, sampah juga bisa ditekan,” tegasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto