Jawa Pos Radar Madiun - Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dimaknai lebih dari sekadar peristiwa Yesus naik ke surga.
Gereja Paroki Santo Cornelius Madiun menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat pentingnya kedewasaan iman dan kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat.
Pastor Kepala Paroki Santo Cornelius Madiun Adrianus Akik Purwanto menegaskan, inti iman Kristiani sesungguhnya terletak pada Paskah atau kebangkitan Yesus Kristus.
“Kalau tidak ada kebangkitan, maka sia-sia iman orang Kristiani. Karena itu pusat iman sebenarnya dimulai dari Paskah, bukan Natal,” ujarnya, Rabu (13/5).
Menurut Romo Akik, Hari Raya Kenaikan Tuhan diperingati 40 hari setelah Paskah.
Dalam masa itu, Yesus diyakini menampakkan diri kepada para rasul sebelum akhirnya naik ke surga.
Namun, peristiwa tersebut tidak dimaknai sebagai perpisahan yang menyedihkan.
Sebaliknya, menjadi simbol harapan keselamatan dan penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus.
“Ini bukan peristiwa sedih karena Tuhan meninggalkan manusia. Justru Tuhan memberikan penyertaan melalui Roh Kudus,” katanya.
Di Paroki Santo Cornelius Madiun, persiapan misa Kenaikan Tuhan dilakukan layaknya perayaan besar gereja lainnya. Mulai latihan koor hingga penambahan jadwal ibadah.
Jumlah umat yang mengikuti misa diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang atau setara misa akhir pekan biasa.
Tahun ini, Keuskupan Surabaya mengangkat tema menuju paroki yang dewasa dan mandiri.
Tema tersebut, kata Romo Akik, menjadi pengingat agar umat tidak hanya aktif beribadah, tetapi juga tumbuh dalam semangat melayani sesama.
“Dewasa itu artinya mau saling melayani, berbagi waktu, tenaga, maupun materi. Jangan hidup hanya untuk diri sendiri,” tegasnya.
Dia menilai semangat kebersamaan dan kepedulian sosial perlu terus diperkuat di tengah masyarakat yang semakin individualistis.
Saat ini, jumlah umat Paroki Santo Cornelius mencapai sekitar 3.100 jiwa. Namun yang rutin mengikuti misa mingguan berkisar 1.500 hingga 1.600 umat.
“Ini menjadi pengingat agar umat semakin aktif dan dewasa dalam kehidupan beriman maupun bermasyarakat,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto