Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca panas ekstrem di Makkah mulai memicu kewaspadaan menjelang puncak ibadah haji.
Sebanyak 227 calon jemaah haji (CJH) Kota Madiun mendapat visitasi dan edukasi khusus menghadapi fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
PPIH Sektor 1 Makkah meminta jemaah mulai menjaga kondisi fisik dan tidak memforsir tenaga.
Terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti).
Ketua Kloter SUB 22 Zainal Arifin mengatakan, edukasi difokuskan pada kesiapan kesehatan sekaligus pola aktivitas jemaah selama menghadapi Armuzna.
“Dibandingkan Armuzna tahun sebelumnya, edukasinya relatif sama,” ujarnya, Kamis (14/5).
Menurut dia, suhu udara di Makkah saat siang hari kini sudah mencapai 37 derajat Celsius.
Bahkan saat puncak musim haji diperkirakan menyentuh 42 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban rendah.
Karena itu, jemaah mulai dibiasakan mengonsumsi lebih banyak air putih dan oralit guna mencegah dehidrasi.
Selain itu, jemaah juga diminta mengurangi aktivitas sunnah berlebihan agar kondisi fisik tetap stabil menjelang puncak ibadah haji.
Zainal mengungkapkan, keluhan kesehatan yang paling banyak dialami jemaah saat ini berupa batuk dan pilek.
“Permintaan visit dokter paling banyak karena batuk dan pilek,” katanya.
Sementara itu, sebanyak 92 CJH Kloter SUB 22 masuk dalam skema murur. Namun, data tersebut masih menunggu pembaruan dari PPIH Sektor Makkah.
Murur merupakan pola pergerakan jemaah dari Arafah melintas Muzdalifah tanpa turun dari bus.
Skema itu diterapkan untuk mengurangi risiko kelelahan dan kepadatan, terutama bagi jemaah lansia dan risiko tinggi.
Pihak kloter meminta seluruh jemaah menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan fisik masing-masing selama di Tanah Suci.
“Terutama jemaah lansia jangan sampai memforsir tenaga,” tandas Zainal. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto