Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca di wilayah Madiun diperkirakan bakal tak menentu dalam beberapa hari ke depan.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Equatorial Rossby disebut menjadi pemicu meningkatnya potensi hujan lokal disertai cuaca ekstrem di tengah suhu udara yang mulai terasa panas.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris mengatakan, saat ini MJO berada pada fase 3 di wilayah Samudra Hindia barat Sumatera.
Kondisi tersebut diperkuat aktivitas gelombang Equatorial Rossby yang ikut meningkatkan massa uap air di atmosfer.
Akibatnya, pembentukan awan hujan di wilayah Jawa Timur, termasuk Madiun Raya, menjadi lebih intens.
“Kelembapan udara meningkat sehingga menjadikan suhu terasa lembap atau gerah (sumuk) serta mendukung pembentukan awan hujan,” ujarnya, kemarin (17/5).
Menurut Setiyaris, dampak fenomena atmosfer tersebut membuat cuaca di Madiun cenderung dinamis.
Pada pagi hingga siang hari cuaca terasa panas akibat minimnya tutupan awan.
Namun memasuki siang hingga malam, potensi hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih cukup tinggi.
“Udara menjadi lembap atau gerah,” katanya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan masih terjadi pada periode 15–20 Mei.
Puncak hujan diprediksi berlangsung pada 17–19 Mei dengan karakter hujan bersifat lokal dan tidak merata.
Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi angin kencang, petir, dan kilat yang dapat muncul saat pertumbuhan awan konvektif meningkat.
“Karena atmosfer masih cukup dinamis, hujan lokal masih berpotensi terjadi,” tandas Setiyaris. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto