Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

13 Tahun Jadi Penari Jathil, Rara Mo Lawan Stigma Negatif

Erlita H • Senin, 18 Mei 2026 | 15:00 WIB
PELESTARI BUDAYA: Praditya Swasti Naraswari telah menekuni dunia jathilan selama hampir 13 tahun.
PELESTARI BUDAYA: Praditya Swasti Naraswari telah menekuni dunia jathilan selama hampir 13 tahun.

Jawa Pos Radar Madiun – Dentuman kendang dan irama gamelan sudah akrab di telinga Praditya Swasti Naraswari sejak remaja.

Perempuan asal Kelurahan Manguharjo, Kota Madiun, itu kini dikenal sebagai salah satu penari jathil yang rutin tampil di berbagai panggung reog di Madiun Raya.

Perjalanan panjangnya di dunia tari tradisional dimulai saat duduk di bangku SMP.

Kala itu, perempuan yang akrab disapa Rara Mo tersebut diajak pengurus Paguyuban Reog Gedongan untuk ikut latihan menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI.

“Waktu SMP ditawari latihan jathil,” ujarnya, Senin (18/5).

Awalnya, Rara hanya tampil dalam pentas lingkungan seperti Agustusan dan bulan Sura.

Namun ketertarikannya terhadap seni tari tradisional terus tumbuh.

Saat SMA, dia mulai bergabung dengan grup reog di luar Kota Madiun.

Menurut Rara, tantangan terbesar saat mulai menekuni dunia jathilan adalah stigma masyarakat yang masih memandang negatif profesi penari.

Karena itu, dia memilih membuktikan keseriusannya lewat latihan dan penampilan di berbagai panggung.

“Aku sudah hafal ketukan kendang jadi tidak terlalu lama belajar,” katanya.

Perempuan 28 tahun tersebut mulai dikenal setelah tampil di sebuah acara hajatan dan mendapat banyak tawaran pentas dari sejumlah grup reog di Madiun Raya.

Meski sempat tidak mendapat restu ibunya karena khawatir mengganggu sekolah, Rara tetap menjalani aktivitas menari dengan membatasi jadwal pentas di luar jam belajar.

Setelah lulus dari SMAN 4 Madiun pada 2017, dia memutuskan fokus menjadi penari jathil hingga sekarang.

“Sejak lulus sekolah memang fokus menari,” ungkap ibu satu anak tersebut.

Selama berkarier, Rara rutin tampil di berbagai daerah seperti Madiun, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Malang hingga Surabaya.

Dia mengakui persaingan di dunia jathilan kini semakin ketat seiring banyaknya penari muda bermunculan.

Karena itu, dia terus menjaga kualitas penampilan, mulai kemampuan menari hingga penampilan panggung.

Rara berharap seni jathilan mendapat perhatian lebih serius agar minat generasi muda terhadap budaya tradisional tidak terus menurun.

Dia juga mengingatkan anak muda yang ingin belajar jathilan agar terlebih dahulu mendapat dukungan keluarga.

“Harus bisa meyakinkan orang tua kalau memang serius belajar jathil,” tandasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#Penari jathil Madiun #Jathilan Madiun #Seni tradisional Jawa #Rara Mo #budaya Madiun