Jawa Pos Radar Madiun – Penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC) di Kota Madiun menjadi perhatian serius pemerintah kota.
Hingga awal Mei 2026, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun menemukan 343 kasus positif TBC dari estimasi total 1.312 kasus yang diperkirakan ada di Kota Pendekar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 341 kasus merupakan TBC sensitif obat dan dua lainnya tergolong TBC resisten obat.
Sebanyak 323 pasien kini telah menjalani pengobatan. Namun, empat penderita dilaporkan meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan penanganan medis.
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun menegaskan pentingnya validitas data penanganan TBC agar intervensi yang dilakukan pemerintah benar-benar tepat sasaran.
“Tadi saya tekankan bahwa data ini harus valid,” ujarnya, Kamis (21/5).
Menurut Bagus, pemkot bakal memperkuat langkah deteksi dini melalui skrining massal menggunakan mobile X-ray serta pemeriksaan radiologi di RSUD Sogaten.
“Makanya nanti harus bekerja sama supaya cepat,” katanya.
Selain skrining massal, Dinkes PPKB juga bakal menggencarkan tes mantoux dan pelacakan kontak erat di masing-masing kelurahan guna menekan penyebaran penyakit.
Pemkot bahkan telah memetakan sejumlah wilayah yang menjadi kantong kasus TBC tertinggi di Kota Madiun.
Salah satunya Kelurahan Banjarejo. Pada 2025 lalu, tercatat terdapat 27 kasus TBC di wilayah tersebut. Tahun ini jumlahnya menurun menjadi 17 kasus.
“Habis ini didata, eksekusinya kami akan tindak lanjuti,” tegas Bagus.
Sementara itu, Kepala Dinkes PPKB Kota Madiun Denik Wuryani mengatakan, pihaknya juga menjalankan program pembinaan wilayah dan skrining TBC di sembilan kelurahan yang menjadi kantong penyebaran kasus.
“Ternyata kasus TBC terbanyak dari luar Kota Madiun,” katanya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto