Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

RSUD dr Soedono Madiun Ingatkan Bahaya Hantavirus, Gejalanya Mirip Demam Biasa

Erlita H • Senin, 25 Mei 2026 | 00:45 WIB
Petugas mengambil sampel hewan pengerat untuk pemantauan penyakit zoonosis. Tikus menjadi salah satu media penyebaran hantavirus. DOK JAWA POS RADAR MADIUN
Petugas mengambil sampel hewan pengerat untuk pemantauan penyakit zoonosis. Tikus menjadi salah satu media penyebaran hantavirus. DOK JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman hantavirus mulai diwaspadai meski hingga kini belum ditemukan kasus di Kota Madiun maupun Jawa Timur.

Penyakit yang ditularkan hewan pengerat tersebut dinilai berbahaya karena dapat memicu gangguan berat pada paru-paru dan ginjal hingga berujung kematian.

Kabid Pelayanan Medik RSUD dr. Soedono Ida Nurromdoni mengatakan hantavirus merupakan infeksi yang disebabkan virus RNA yang dibawa tikus dan hewan pengerat lainnya.

Penularan terjadi saat manusia menghirup debu atau aerosol yang terkontaminasi urine, air liur, maupun kotoran tikus terinfeksi.

“Pada fase awal gejalanya sering menyerupai infeksi virus biasa seperti dengue, leptospirosis, atau pneumonia sehingga kerap terlambat dikenali,” ujarnya kemarin (24/5).

Menurut Ida, hantavirus memiliki dua sindrom utama. Yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.

Pada HFRS, pasien biasanya mengalami demam mendadak, nyeri kepala hebat, mata merah, hingga gangguan ginjal akut.

Sedangkan pada HPS, gejala awal berupa demam, mual, muntah, dan diare sebelum berkembang menjadi sesak napas berat akibat peradangan paru.

“Dalam waktu 24 sampai 48 jam pasien bisa mengalami gagal napas hingga syok,” katanya.

Masa inkubasi hantavirus berkisar satu hingga enam minggu. Fase perburukan biasanya muncul pada hari keempat hingga kesepuluh setelah gejala awal.

Ida menegaskan hingga kini belum tersedia terapi spesifik untuk hantavirus.

Karena itu, penanganan pasien masih difokuskan pada terapi suportif seperti pemberian cairan, oksigenasi, dan pemenuhan nutrisi.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengendalikan populasi tikus di rumah maupun tempat kerja.

Warga juga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

“Pola hidup bersih dan sehat serta menjaga imunitas tubuh menjadi langkah penting untuk mencegah penularan,” pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#penyakit tikus #kota madiun #RSUD dr Soedono #hantavirus #keseburan