Mitos Daging Kambing Picu Hipertensi, Ternyata Lemaknya Lebih Rendah dari Sapi

Erlita H • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 12:00 WIB
Petugas memeriksa daging hewan kurban di Kota Madiun. Masyarakat diimbau mengonsumsi daging secukupnya dan memperhatikan pola pengolahan agar tetap sehat saat Idul Adha. BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN
Petugas memeriksa daging hewan kurban di Kota Madiun. Masyarakat diimbau mengonsumsi daging secukupnya dan memperhatikan pola pengolahan agar tetap sehat saat Idul Adha. BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Daging kambing kerap dianggap sebagai penyebab utama naiknya kolesterol dan tekanan darah setelah perayaan Idul Adha. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ahli Gizi Rumah Sakit (RS) Paru Manguharjo, Nikmahtul Fadila, menjelaskan bahwa kandungan lemak daging kambing justru lebih rendah dibandingkan daging sapi.

Karena itu, konsumsi daging kambing tidak otomatis menyebabkan hipertensi maupun kolesterol tinggi selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang sehat.

"Bila dibandingkan dengan daging sapi, kandungan energi dan lemak daging kambing lebih rendah," ujarnya, Jumat (29/5).

Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, setiap 100 gram daging kambing mengandung sekitar 149 kalori, 16,6 gram protein, dan 9,2 gram lemak.

Sementara daging sapi mengandung sekitar 190 kalori dengan kadar lemak mencapai 12 gram per 100 gram.

Menurut Nikmah, peningkatan kadar kolesterol maupun tekanan darah saat Idul Adha lebih sering dipicu pola konsumsi yang tidak seimbang.

Salah satunya penggunaan santan berlebihan, tambahan lemak dalam masakan, kecap dalam jumlah banyak, hingga minimnya konsumsi sayur dan buah.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat juga menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap munculnya gangguan kesehatan.

Untuk masyarakat sehat, konsumsi daging merah disarankan berkisar 350 hingga 500 gram per minggu.

Sedangkan bagi penderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, maupun penyakit jantung, porsi konsumsi sebaiknya dibatasi sekitar 50 hingga 75 gram sekali makan dengan frekuensi maksimal dua kali dalam sepekan.

Nikmah juga menyarankan masyarakat lebih selektif memilih bagian daging yang dikonsumsi.

Bagian dengan kandungan lemak tinggi seperti jeroan, buntut, iga, dan sandung lamur sebaiknya dibatasi.

Sebagai alternatif, daging kurban dapat diolah menjadi menu yang lebih sehat seperti sop bening atau semur yang dipadukan dengan banyak sayuran.

Selain memperhatikan porsi dan cara memasak, masyarakat juga dapat memanfaatkan bahan alami untuk mengempukkan daging.

Daun pepaya maupun nanas diketahui mengandung enzim yang membantu melunakkan serat daging tanpa perlu tambahan bahan kimia.

"Yang terpenting tetap menerapkan mindful eating dan tidak berlebihan dalam mengonsumsinya," pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
kolestrol tips Gizi kesehatan idul adha daging kambing