Jawa Pos Radar Madiun – Usia 97 tahun menjadi momentum refleksi sekaligus harapan baru bagi PSM Madiun.
Klub yang tercatat sebagai salah satu pendiri PSSI itu mulai menggaungkan kebangkitan setelah beberapa tahun terakhir tenggelam dari panggung kompetisi dan tak lagi bermarkas di Kota Madiun.
Harapan untuk melihat kembali PSM Madiun bermain di Stadion Wilis menjadi pesan utama dalam peringatan hari jadi yang digelar kelompok suporter Madioensche Vokoid Brigade (MVB), Jumat dini hari (29/5).
Perwakilan MVB Dika Putra mengatakan, rangkaian peringatan digelar di dua lokasi, yakni Taman Gelanggang Prestasi (TGP) dan Stadion Wilis.
Acara diawali dengan doa bersama, pemotongan tumpeng, serta diskusi antarsuporter mengenai masa depan klub kebanggaan Kota Pendekar tersebut.
Momentum itu juga dimanfaatkan untuk mengenang almarhum Nono Djatikusumo yang semasa hidup dikenal sebagai Ketua Askot PSSI Madiun sekaligus Manajer PSM Madiun.
Selain itu, doa bersama turut dipanjatkan untuk para korban Tragedi Kanjuruhan.
"Mbah Nono adalah panutan kami," ujar Dika.
Setelah kegiatan di TGP selesai, suporter melanjutkan peringatan di Stadion Wilis dengan menyalakan flare dan kembang api.
Aksi tersebut menjadi simbol kecintaan mereka terhadap PSM Madiun yang telah menjadi bagian dari sejarah sepak bola nasional.
Bagi para pendukung, usia ke-97 bukan sekadar perayaan ulang tahun.
Momen tersebut juga menjadi penanda dimulainya kembali upaya membangkitkan prestasi klub yang sempat meredup.
Optimisme itu muncul setelah pembinaan usia muda kembali diaktifkan melalui pembentukan tim PSM Madiun U-17 yang akan berlaga di Piala Soeratin Jawa Timur.
"Kami berharap tahun ini PSM Madiun Youth bisa berprestasi dan memberikan kado ulang tahun untuk suporter," harap Dika.
Namun, ada satu harapan yang lebih besar dan terus disuarakan para suporter.
Yakni mengembalikan PSM Madiun agar kembali bermarkas dan memainkan pertandingan kandangnya di Kota Madiun.
Menurut Dika, sudah sekitar lima hingga enam tahun PSM tidak lagi bermain di tanah kelahirannya sendiri.
"PSM sudah sekitar 5–6 tahun tidak bermain di Madiun. Itu harapan utama kami," katanya.
Harapan tersebut ternyata sejalan dengan keinginan manajemen klub.
Manajer PSM Madiun Sunaryo menegaskan bahwa proses kebangkitan Banteng Wilis harus dimulai dari fondasi yang kuat, yakni pembinaan pemain usia muda.
Karena itu, musim ini manajemen memprioritaskan pengembangan tim U-17 yang diproyeksikan tampil kompetitif di ajang Piala Soeratin Jawa Timur.
"Pembinaan usia muda sudah kami aktifkan dan kami punya target juara di Piala Soeratin U-17," ujarnya.
Sunaryo menjelaskan, persiapan tim telah dilakukan sejak awal tahun sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kekuatan klub, termasuk menghadapi kompetisi Liga 4 Jawa Timur pada musim berikutnya.
Selain fokus membangun prestasi, manajemen juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan keinginan suporter agar PSM kembali berkandang di Kota Madiun.
"Kami sedang berproses dan berkomunikasi dengan berbagai stakeholder. Harapannya tentu bisa kembali ke rumah sendiri," jelasnya.
Menjelang usia satu abad, dukungan suporter dinilai menjadi faktor penting dalam perjalanan kebangkitan klub.
Sebab, mengembalikan kejayaan PSM Madiun bukan hanya tugas pemain dan manajemen, melainkan juga seluruh pecinta sepak bola di Madiun.
"Support dari suporter sangat penting. Kami berharap momentum ini menjadi awal untuk meraih target-target yang sudah ditetapkan," tandas Sunaryo. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto