Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Puncak Kemarau Diprediksi Agustus, Petani Kota Madiun Didorong Kejar Masa Tanam

Erlita H • Minggu, 31 Mei 2026 | 21:00 WIB
Petani mulai mengolah lahan pertanian di Kota Madiun. DKPP mengimbau percepatan masa tanam untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino. DOK JAWA POS RADAR MADIUN
Petani mulai mengolah lahan pertanian di Kota Madiun. DKPP mengimbau percepatan masa tanam untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino. DOK JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman musim kemarau dan potensi fenomena El Nino mulai menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun.

Untuk mengurangi risiko penurunan produksi pertanian, petani didorong mempercepat masa tanam agar panen dapat dilakukan sebelum puncak kemarau tiba.

Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun Wahyu Niken Febrianti mengatakan, strategi percepatan tanam menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau.

"Kalau waktu tanamnya tepat, saat kemarau datang petani sudah masuk masa panen," ujarnya, Minggu (31/5).

Menurut Niken, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang.

Karena itu, petani diminta memanfaatkan sisa ketersediaan air saat ini untuk memulai musim tanam lebih awal.

Selain percepatan tanam, DKPP juga menyiapkan program asuransi usaha tani sebagai bentuk perlindungan bagi petani apabila terjadi gagal panen akibat kekeringan.

Program tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus mengurangi potensi kerugian yang ditanggung petani saat menghadapi cuaca ekstrem.

DKPP juga mendorong petani memanfaatkan pupuk organik dan mengembalikan jerami ke lahan setelah panen.

Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan cadangan air sehingga tanaman lebih tahan menghadapi kondisi kering.

Di sisi lain, petani dianjurkan menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap musim kemarau.

Salah satunya varietas Inpari 32 yang dinilai memiliki produktivitas tinggi sekaligus tahan terhadap kekeringan dan beberapa penyakit tanaman.

Saat ini sejumlah wilayah pertanian di Kota Madiun, seperti Banjarejo dan Winongo, telah memasuki masa tanam.

DKPP berharap langkah antisipasi yang dilakukan sejak dini mampu meminimalkan dampak kemarau terhadap hasil produksi pertanian tahun ini.

"Kami berharap langkah tersebut mampu meminimalkan dampak kemarau terhadap sektor pertanian Kota Madiun tahun ini," katanya.

Niken menambahkan, pengembangan sektor pertanian di Kota Madiun saat ini lebih difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada.

Pasalnya, luas baku sawah di Kota Madiun yang sekitar 870 hektare relatif terbatas dan berpotensi berkurang karena kebutuhan pembangunan di berbagai sektor.

Karena itu, strategi intensifikasi pertanian menjadi pilihan utama untuk menjaga ketahanan pangan daerah.

"Kuncinya meningkatkan produktivitas lahan yang ada agar hasil pertanian tetap terjaga," tegasnya.

Editor : Hengky Ristanto
#petani madiun #dkpp madiun #pertanian madiun #musim kemarau #el nino