Jawa Pos Radar Madiun – Harga cabai kembali membuat kantong warga kepanasan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat inflasi pada Mei 2026 mencapai 3,22 persen secara tahunan (year on year/y-on-y), tertinggi dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.
Lonjakan harga cabai rawit menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi di Kota Pendekar.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan, secara bulanan inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,35 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi gabungan kabupaten/kota di Jawa Timur maupun nasional yang sama-sama berada di level 0,28 persen.
“Inflasi bulan Mei terutama didorong kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah,” ujarnya, kemarin (2/6).
Berdasarkan data BPS, harga cabai rawit naik 22,31 persen dalam satu bulan terakhir dan memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,10 persen.
Sementara bawang merah mengalami kenaikan harga 10,19 persen.
Kenaikan harga dua komoditas tersebut dipicu tingginya permintaan menjelang Idul Adha yang tidak diimbangi pasokan memadai.
Produksi bawang merah dari sejumlah daerah sentra juga menurun akibat cuaca ekstrem serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Selain cabai rawit dan bawang merah, sejumlah komoditas lain turut menyumbang inflasi.
Di antaranya minyak goreng yang naik 5,17 persen, pecel 4,66 persen, kasur 7,70 persen, cabai merah 30,76 persen, jeruk 4,13 persen, tarif rumah sakit 1,83 persen, nasi dengan lauk 0,54 persen, dan sampo 4,04 persen.
Secara tahunan, inflasi Kota Madiun sebesar 3,22 persen jauh lebih tinggi dibanding Mei 2025 yang berada di angka 1,08 persen dan Mei 2024 sebesar 2,41 persen.
Namun angka tersebut masih lebih rendah dibanding Mei 2022 yang mencapai 3,86 persen.
Cabai rawit kembali menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi tahunan terbesar.
Harga komoditas tersebut melonjak hingga 115,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menyumbang inflasi sebesar 0,32 persen.
Komoditas lain yang turut memberikan tekanan inflasi tahunan meliputi beras, emas perhiasan, daging ayam ras, minyak goreng, jeruk, biaya pendidikan perguruan tinggi, sepeda motor, mobil, dan bawang merah.
Meski demikian, Aziz menilai tekanan inflasi dari sektor pangan berpotensi menurun memasuki musim kemarau.
Ketersediaan pasokan hortikultura diperkirakan tetap relatif aman karena sebagian besar lahan pertanian didukung irigasi teknis dan sumber air bawah tanah.
Sebaliknya, perhatian kini mulai mengarah pada sektor pendidikan.
Menjelang tahun ajaran baru, kebutuhan rumah tangga diprediksi meningkat untuk biaya sekolah, seragam, dan perlengkapan belajar.
“Yang perlu diwaspadai sekarang justru biaya pendidikan, terutama SMA, SMK, dan sekolah swasta,” tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto