Jawa Pos Radar Madiun - Malam di Madiun Raya kini terasa lebih menusuk dari biasanya.
Suhu udara yang turun drastis sejak beberapa hari terakhir menjadi pertanda datangnya fenomena bediding, kondisi khas musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang.
Fenomena tersebut mulai dirasakan warga saat malam hingga menjelang pagi hari.
Udara yang lebih dingin membuat sebagian masyarakat harus mengenakan pakaian lebih tebal dibanding biasanya.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris menjelaskan, penurunan suhu udara dipicu masuknya massa udara dingin dari Australia yang saat ini sedang mengalami puncak musim dingin.
“Pada periode Juni sampai Agustus, suhu rata-rata di wilayah selatan Australia berkisar 3–11 derajat Celsius,” ujarnya, Selasa (9/6).
Menurut dia, massa udara dingin tersebut bergerak menuju wilayah Indonesia melalui proses adveksi atau perpindahan udara secara horizontal yang dipengaruhi hembusan angin.
Dampaknya paling terasa di kawasan Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Timur dan wilayah Madiun Raya.
Semakin kuat angin yang bertiup dari arah selatan, semakin banyak massa udara dingin yang terbawa ke Indonesia.
Akibatnya, suhu udara pada malam hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode lainnya.
Namun, fenomena bediding tidak hanya dipengaruhi angin dari Australia.
Kondisi atmosfer saat musim kemarau juga berperan besar dalam menyebabkan suhu malam hari terasa lebih dingin.
Pada musim kemarau, langit cenderung cerah dan minim tutupan awan.
Kondisi tersebut membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer ketika malam tiba.
“Pada malam hari tidak ada pemanasan dari matahari. Permukaan bumi terus melepaskan panas melalui radiasi sehingga suhu udara semakin turun dan mencapai titik terendah menjelang matahari terbit,” jelasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto