Jawa Pos Radar Madiun – Lonjakan harga bawang putih dalam sepekan terakhir mulai memukul aktivitas perdagangan di Kota Madiun.
Harga komoditas dapur tersebut naik lebih dari 70 persen dan membuat daya beli masyarakat melemah.
Di Pasar Besar Madiun (PBM), harga bawang putih saat ini berada di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 38 ribu per kilogram.
Padahal pekan sebelumnya masih dijual antara Rp 19 ribu sampai Rp 22.500 per kilogram.
Pedagang PBM Sugiono mengaku kenaikan harga langsung berdampak pada pola belanja masyarakat.
Banyak pembeli mengurangi jumlah pembelian karena harga yang dianggap terlalu tinggi.
“Permintaan sekarang sepi. Dulu pembeli biasa membeli setengah kilogram, sekarang banyak yang hanya seperempat kilogram,” ujarnya, Rabu (10/6).
Kondisi serupa dirasakan pedagang lainnya, Seno.
Menurut dia, pasokan bawang putih impor yang berkurang menjadi penyebab utama lonjakan harga di tingkat pasar.
Akibatnya, volume penjualan harian turun drastis hingga sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal.
“Biasanya bisa menjual sekitar 30 kilogram per hari, sekarang hanya 15 sampai 20 kilogram,” katanya.
Pengurus Harian Asosiasi Bawang Merah DPD Nganjuk Lulus Budiarto menjelaskan, harga bawang putih memang lebih rentan bergejolak dibanding komoditas hortikultura lainnya.
Sebab, sebagian besar kebutuhan nasional masih bergantung pada impor.
Selain dipengaruhi ketersediaan pasokan, harga bawang putih juga sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Harga bawang putih hampir tembus Rp 50 ribu per kilogram. Kenaikannya mulai terasa sejak awal Juni,” ujarnya.
Di tengah lonjakan bawang putih, harga bawang merah justru cenderung lebih stabil.
Meski sempat mengalami kenaikan akibat faktor cuaca yang memengaruhi hasil panen, kondisi saat ini dinilai masih berada pada level yang wajar.
Menurut Lulus, stabilnya harga bawang merah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha petani.
Sebab, biaya produksi terus meningkat seiring naiknya harga pupuk, pestisida, dan fungisida.
“Kalau harga terlalu rendah, petani bisa kehilangan semangat untuk menanam,” tegasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto