Jawa Pos Radar Madiun – Semangat melestarikan tradisi Jawa terus dijaga para pelaku UMKM di Kota Madiun.
Kamis malam (11/6), puluhan pedagang yang tergabung dalam Lapak UMKM Paguyuban Sedayu Winongo menggelar tradisi Mapak Suro sebagai bentuk syukur sekaligus doa bersama menyambut datangnya bulan Suro.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Lapak Sedayu Winongo tersebut diikuti sekitar 25 peserta yang terdiri atas anggota lapak, pelaku usaha mandiri, dan warga sekitar.
Sejumlah tokoh masyarakat, ketua RT, perangkat kelurahan, hingga unsur kecamatan turut hadir dalam kegiatan budaya tersebut.
Ketua Lapak UMKM Paguyuban Sedayu Winongo Bambang Setyo Widodo mengatakan, tradisi Mapak Suro telah rutin digelar selama tiga tahun terakhir.
Selain menjadi sarana mengirim doa kepada para leluhur, kegiatan itu juga bertujuan menjaga keberlangsungan budaya warisan nenek moyang agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Untuk mengirim doa leluhur, acara Mapak Suro kami gelar. Intinya nguri-nguri seni dan budaya leluhur jangan sampai punah,” ujarnya.
Menurut Bambang, pelaksanaan tradisi pada Kamis malam Jumat bukan tanpa alasan.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, malam tersebut diyakini memiliki nilai sakral menjelang datangnya bulan Suro.
“Malam Jumat karena dari nenek moyang, hari yang disakralkan hari Kamis malam Jumat,” katanya.
Persiapan acara dilakukan sejak pagi. Para anggota lapak bergotong royong menyiapkan lima tumpeng yang menjadi bagian utama prosesi adat.
Angka lima dipilih karena memiliki makna filosofis yang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, mulai lima jari tangan, lima rukun Islam, hingga lima sila dalam Pancasila.
Setelah salat Magrib, peserta memulai kirab mengelilingi kawasan lapak.
Prosesi dipimpin langsung oleh Bambang dengan membawa sejumlah perlengkapan adat seperti kendi, lilin, tumpeng, pisang, dan kelapa muda.
Sepanjang perjalanan, peserta diiringi lantunan lagu-lagu nasional yang menambah khidmat suasana.
Kirab kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan tumpeng secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Momen tersebut juga menjadi ajang mempererat hubungan antaranggota lapak, pelaku UMKM, dan masyarakat sekitar.
Melalui tradisi Mapak Suro, para pelaku usaha berharap nilai gotong royong, kebersamaan, serta budaya lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
“Terus berbuat baik, yang jelas saya ingin memajukan lapak,” pungkas Bambang. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto