Jawa Pos Radar Madiun – Alih fungsi lahan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kota Madiun.
Luas areal pertanian terus berkurang seiring perkembangan kawasan perkotaan.
Untuk menjaga produksi pangan tetap stabil, pemerintah menggenjot program intensifikasi melalui bantuan alat mesin pertanian (alsintan), benih unggul, dan pupuk.
Sebanyak 34 kelompok tani (poktan) menerima bantuan benih padi, tiga unit traktor roda dua, serta pupuk NPK sebanyak 78 kilogram per hektare.
Selain itu, Kota Madiun juga mendapatkan bantuan brigade alsintan dari Kementerian Pertanian berupa satu unit traktor roda empat, enam unit alat tanam padi, dan satu unit combine harvester.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan bantuan tersebut langsung disalurkan kepada petani agar dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produktivitas lahan pertanian.
“Bantuan ini harus segera dirasakan manfaatnya oleh petani. Harapannya produktivitas pertanian di Kota Madiun terus meningkat,” ujarnya, Selasa (23/6).
Menurut Bagus, sektor pertanian tetap menjadi perhatian pemerintah daerah meski luas lahan pertanian semakin terbatas.
Karena itu, peningkatan hasil panen per hektare menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun Jemakir menyebut bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi musim kemarau sekaligus mengurangi risiko gagal panen.
Dia mengakui peluang penambahan lahan pertanian di Kota Madiun sangat terbatas karena tingginya tekanan pembangunan kawasan perkotaan.
“Perluasan lahan hampir tidak mungkin dilakukan lagi. Karena itu yang harus ditingkatkan adalah produktivitasnya,” katanya.
Untuk mendukung target tersebut, DKPP mendorong petani menerapkan intensifikasi pertanian melalui penggunaan benih unggul, pemupukan tepat sasaran, pemanfaatan alsintan modern, serta pengolahan lahan yang lebih efektif.
Selain bantuan fisik, petani juga memperoleh pendampingan teknis terkait pemilihan varietas yang sesuai musim kemarau, pemulihan kesuburan tanah, hingga penggunaan pupuk majemuk dan pupuk hayati secara tepat.
“Targetnya produksi tetap terjaga meski luas lahan terus menyusut. Produktivitas per hektare harus terus naik,” tegas Jemakir. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto