Jawa Pos Radar Madiun – Para pendekar dari 13 perguruan pencak silat turun ke jalan, Kamis (25/6).
Mereka mengikuti Kirab Budaya Pencak Silat yang digelar perdana dalam rangka Hari Jadi ke-108 Kota Madiun.
Kirab mengusung tema Pendekar Santun, Madiun Rukun.
Kegiatan dibuka Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun bersama jajaran forkopimda di depan Balai Kota Madiun.
Bagus mengatakan, kirab budaya tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas Kota Madiun sebagai Kota Pendekar sekaligus mengenalkan kekayaan budaya pencak silat kepada masyarakat luas.
“kami ingin menghadirkan kegiatan yang bercerita tentang sejarah dan identitas Kota Madiun. Salah satunya melalui kirab budaya pencak silat ini,” ujarnya.
Kirab diawali parade panji dari 13 perguruan pencak silat dan Pencak Silat Militer (PSM) Kodim 0803 Madiun.
Setiap perguruan menampilkan atraksi seni budaya dan demonstrasi jurus khas masing-masing.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian berasal dari PSHW Tunas Muda yang menampilkan atraksi kolosal mengangkat kisah Raden Ayu Retno Dumilah.
Rute kirab dimulai dari Balai Kota Madiun menuju Titik Nol Kilometer, melintasi Jalan Citandui dan Jalan H. Agus Salim, kemudian berakhir di kawasan SMPN 2 Madiun.
Menurut Bagus, kondusivitas kegiatan pencak silat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa seluruh perguruan mampu menjaga persaudaraan, toleransi, dan kerukunan.
“Dalam lima tahun terakhir berbagai kegiatan pencak silat berjalan aman. Ini membuktikan seluruh perguruan di Kota Madiun mampu hidup rukun dan menjadi contoh positif bagi daerah lain,” katanya.
Pemkot Madiun ingin membangun narasi bahwa banyaknya perguruan pencak silat bukan menjadi sumber konflik, melainkan kekuatan sosial yang mampu memperkuat persatuan masyarakat.
Karena itu, Kirab Budaya Pencak Silat direncanakan menjadi agenda tahunan.
Bahkan, mulai tahun depan kegiatan tersebut ditargetkan berkembang menjadi event pencak silat bertaraf nasional.
“Insya Allah tahun depan akan kami laksanakan dengan konsep yang lebih besar dan ditargetkan menjadi agenda bertaraf nasional,” pungkasnya. (err/her/adv)
Editor : Hengky Ristanto