Jawa Pos Radar Madiun – Pertamina Patra Niaga terus memperkuat distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Madiun untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Hingga 21 Juni 2026, realisasi penyaluran Biosolar di Kota dan Kabupaten Madiun telah mencapai 43.810 kiloliter (KL).
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan stok BBM subsidi tetap aman sekaligus mencegah antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, penyaluran Biosolar di Kabupaten Madiun telah mencapai 27.810 KL dari kuota tahunan sebesar 60.262 KL.
Sementara itu, di Kota Madiun, realisasi distribusi mencapai 16.000 KL dari total kuota 33.622 KL.
Secara regional, distribusi BBM subsidi juga menunjukkan tren positif.
Hingga akhir Juni 2026, realisasi penyaluran Pertalite telah mencapai 96,6 persen, sedangkan Biosolar telah menembus 103,3 persen dari kuota kumulatif tahun berjalan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, peningkatan distribusi dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan sekaligus mengantisipasi lonjakan konsumsi masyarakat.
Menurutnya, Pertamina mengoptimalkan operasional seluruh Fuel Terminal (FT) dan Integrated Terminal (IT) selama 24 jam.
Untuk wilayah Madiun, distribusi diperkuat melalui Fuel Terminal Madiun dengan dukungan skema alih suplai dari terminal lain apabila diperlukan.
"Penyaluran kami tingkatkan di atas rata-rata kebutuhan normal, operasional Fuel Terminal dan Integrated Terminal berlangsung selama 24 jam, armada mobil tangki kami tambah, serta pola distribusi terus kami evaluasi secara berkala agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal," ujarnya.
Selain mengoptimalkan terminal BBM, Pertamina juga menambah kapasitas distribusi melalui tambahan armada mobil tangki sebesar 608 KL sehingga total kemampuan distribusi mencapai 22.196 KL per hari.
Mobil tangki juga diberangkatkan lebih awal agar pasokan BBM dapat tiba di SPBU sebelum aktivitas masyarakat dimulai.
Di sisi lain, pengelola SPBU diminta mengatur arus kendaraan agar antrean tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.
Seluruh distribusi dipantau secara real time, sehingga penyesuaian pasokan dapat segera dilakukan apabila terjadi lonjakan permintaan di suatu wilayah.
"Kami terus mengoptimalkan seluruh infrastruktur dan sumber daya yang dimiliki agar kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi," kata Ahad. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto