Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mengingatkan seluruh pedagang kaki lima (PKL) agar tidak memainkan harga kepada konsumen.
Seluruh pedagang diwajibkan mencantumkan daftar harga secara terbuka sebagai upaya menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mempertahankan citra Kota Pendekar sebagai destinasi wisata kuliner.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan pembinaan PKL yang digelar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun, Selasa (30/6).
Selain menekankan transparansi harga, pembinaan juga difokuskan pada kebersihan, ketertiban, dan peningkatan kualitas pelayanan kepada konsumen.
Kepala Disdag Kota Madiun Harum Kusumawati mengatakan, daftar harga wajib dipasang agar tidak terjadi perbedaan tarif, terutama bagi wisatawan yang datang dari luar daerah.
"Kalau memang harganya Rp 10 ribu, ya harus dipasang Rp 10 ribu. Jangan sampai pembeli dari luar kota dikenai harga lebih mahal. Kalau itu terjadi, wisatawan bisa kapok datang lagi," ujarnya.
Harum menjelaskan, pembinaan menjadi bagian dari strategi pemerintah meningkatkan daya saing sektor pariwisata.
Pasalnya, kuliner kaki lima menjadi salah satu daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan ke Kota Madiun.
Saat ini terdapat 1.406 PKL binaan Disdag Kota Madiun yang rutin mendapatkan sosialisasi dan pengawasan.
Salah satunya melalui kepemilikan Tanda Daftar Usaha (TDU).
Menurut dia, pelanggaran seperti meninggalkan gerobak di lokasi berjualan, tidak menjaga kebersihan, hingga berjualan di luar lokasi yang ditentukan akan ditindak bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
"Pelanggaran seperti meninggalkan gerobak, area berjualan yang kotor, hingga tidak mematuhi lokasi usaha akan ditindak bersama Satpol PP," tegas mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan Usaha Mikro tersebut.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun meminta PKL menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan kawasan perdagangan yang bersih, tertib, aman, dan nyaman.
Pedagang juga diminta menyediakan tempat sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, melayani pembeli dengan ramah, serta tidak meninggalkan perlengkapan berdagang setelah aktivitas usaha selesai.
"Yang kami bangun bukan hanya kawasan perdagangan yang ramai, tetapi juga kawasan PKL yang bersih, tertib, dan mampu memberikan pengalaman baik bagi masyarakat maupun wisatawan," tegas Bagus. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto