Jawa Pos Radar Madiun – Menghidupkan suasana kelas di era modern menuntut kreativitas guru agar materi pelajaran tidak lagi dianggap kaku dan membosankan.
Formula tersebut dijawab tuntas oleh SMPN 6 Madiun.
Melalui perpaduan teknologi digital, pelestarian kearifan lokal, dan kepedulian lingkungan, sekolah ini sukses menciptakan ekosistem belajar yang merdeka dan menyenangkan.
Langkah transformatif ini digerakkan melalui empat pilar inovasi utama yang saling melengkapi.
Pilar pertama adalah program Si Gema Jelita (Sinergi GeoRoom Matematika dan Jelajah Lingkungan Sekitar) yang mengawinkan platform web berbasis Google Sites dengan pembelajaran luar ruang (outdoor learning).
Melalui metode petualangan digital seperti memecahkan kode "GeoRoom Escape" dan pembuatan komik digital, skor rata-rata kemampuan numerasi kelas IX pada materi Bangun Ruang berhasil melesat dari angka 71,52 menjadi 85,86.
"Inovasi di sekolah harus bergerak dinamis. Si Gema Jelita memberikan data refleksi yang akurat bagi guru, sekaligus membuktikan bahwa matematika dapat dipelajari secara interaktif dan adaptif terhadap tantangan zaman," terang Kepala SMPN 6 Madiun, Emi Munawaroh.
Pilar kedua adalah Rumah Si Madun (Rumah Kreasi Madiun Berpantun).
Inovasi ini mengoptimalkan penggunaan Chromebook dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk materi puisi rakyat.
Siswa diajak memanfaatkan Kartu Jelajah Kota Madiun untuk menyusun pantun kreatif bertemakan ikon, kuliner, dan budaya lokal, yang kemudian langsung diunggah secara digital ke platform Canva.
Tidak berhenti pada literasi dan numerasi teoritis, SMPN 6 Madiun juga meluncurkan program ketiga bertajuk Polisi Baik (Pengolahan Limbah Sisa Makanan Berdampak Baik).
Program ini mengolah limbah dapur sekolah menjadi proyek lintas mata pelajaran (cross-curricular).
Aspek Matematika digunakan untuk menghitung volume limbah, Prakarya mengawal proses daur ulang, sementara Pendidikan Agama menanamkan nilai moral untuk mencegah perilaku mubazir dengan melibatkan langsung ekskul Pramuka dan PMR di lapangan.
Melengkapi ekosistem tersebut, pilar keempat diwujudkan melalui program Tali Merdeka Beraksi (Peningkatan Literasi dan Numerasi).
Inovasi ini berfokus mendongkrak kemampuan dasar siswa dengan mengawinkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar langsung dengan optimalisasi teknologi informasi via platform YouTube.
Program ini melahirkan berbagai pembiasaan unik yang konsisten, seperti Sapalitanura (Sarapan Pagi Literasi Numerasi) dan Penyukeli (Pemanfaatan YouTube untuk Kegiatan Literasi) melalui aktivitas menyimak dongeng serta lagu di YouTube.
Selain itu, ada gerakan Babar (Baca Bareng), program Aman Mantap (Anak Beriman Baca Alkitab) sebagai wadah literasi keagamaan lintas iman, hingga Pesaing (Pembelajaran Bahasa Asing) yang mengenalkan bahasa Jepang, Korea, Inggris, dan Jawa, serta praktik nyata memilah sampah menjadi pupuk dan produk kerajinan bernilai guna.
Atas konsistensi dan keberhasilan mengarsiteki beragam terobosan pembelajaran yang holistik serta mampu mendongkrak capaian mutu sekolah ini, SMPN 6 Madiun dianugerahi penghargaan Innovative Learning dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026.
Ke depan, manajemen sekolah menargetkan penerbitan buku antologi pantun karya siswa serta perluasan diseminasi metode ke komunitas belajar guru yang lebih luas.
"Target besar kami adalah memulihkan skor numerasi pada Rapor Pendidikan secara berkelanjutan, sekaligus menjadikan teknologi sebagai jembatan yang mampu membawa identitas dan kearifan lokal Kota Madiun ke ruang digital dunia," pungkas Emi. (eln/*/naz)
Editor : Tim Magang Radar Madiun