Jawa Pos Radar Madiun – Kreativitas siswa MAN 1 Magetan berhasil mencuri perhatian dalam Lomba Mading 3D Exmud Party 2026.
Mengusung tema "Berdampingan AI Menuju Masa Depan Indah", tim asal MAN 1 Magetan sukses meraih Juara I berkat karya tiga dimensi yang sebagian besar dibuat dari bahan daur ulang.
Beragam barang bekas seperti kardus, karton, kawat, kaset, hingga lembaran aluminium disulap menjadi mading edukatif yang mengangkat kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sekitar 70 persen material yang digunakan berasal dari barang bekas yang diolah kembali menjadi karya bernilai estetis sekaligus edukatif.
Guru pendamping Arina Amalia Novianti mengatakan, pemanfaatan material daur ulang sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa limbah masih memiliki nilai guna apabila dikelola secara kreatif.
"Barang bekas bisa dimanfaatkan menjadi karya menarik yang dapat menyampaikan pesan positif," ujarnya.
Melalui karya tersebut, tim ingin menyampaikan pesan bahwa AI bukanlah pengganti manusia, melainkan teknologi yang mampu bekerja berdampingan dan mendukung berbagai aktivitas kehidupan.
Konsep itu divisualisasikan melalui miniatur robot yang berjabat tangan dengan manusia sebagai simbol kolaborasi.
Setiap bagian mading menggambarkan penerapan AI di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, perdagangan, kesehatan, hiburan, hingga transportasi.
Agar penyampaian informasi semakin menarik, tim juga melengkapi karya mereka dengan komik digital serta video proses pembuatan yang dapat diakses melalui QR Code.
Di bawah bimbingan Arina, tim terdiri atas Muhammad Kaka Fauzan sebagai ketua, Fildan Alyandra sebagai juru bicara, serta Muhammad Rizki Febrian dan Syla Zakriia sebagai anggota.
Setiap anggota memiliki peran berbeda. Fildan bertugas mencari referensi sekaligus menulis artikel.
Kaka menyusun konsep, membuat desain, dan mengerjakan elemen tiga dimensi.
Rizki bertanggung jawab membuat kerangka dan proses perakitan, sedangkan Syla menggarap komik digital serta membantu pembuatan ikon 3D.
Meski memiliki tugas masing-masing, seluruh anggota tetap saling membantu agar proses pengerjaan berjalan lancar.
Pembuatan mading berlangsung sekitar satu pekan, dimulai dari penyusunan konsep, penulisan artikel, pembuatan kerangka, penyusunan miniatur tiga dimensi, hingga tahap akhir berupa perakitan dan pewarnaan yang diselesaikan di lokasi lomba.
Menurut tim, tantangan terbesar adalah menyesuaikan ukuran miniatur agar tetap sesuai ketentuan lomba.
"Kami beberapa kali mengubah bentuk elemen 3D dan tata letaknya agar tetap proporsional," katanya.
Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi tim MAN 1 Magetan.
Arina berharap prestasi itu mampu menginspirasi siswa lain untuk terus berkarya, memanfaatkan barang bekas secara kreatif, serta terbuka terhadap perkembangan teknologi.
"Kami percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil," pungkasnya. (err/fin)
Editor : Hengky Ristanto